SimpulRakyat.co.id, Jakarta – Persentase kenaikan suara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mencapai lebih dari 3 persen pada real count di laman KPU RI berbeda dengan hasil hitung cepat lembaga survei yang memprediksi tidak lolos ke Senayan..

Hal itu mendapat sorotan dari pemerhati sosial politik, Uchok Sky Khadafi. Menurut dia, kejadian tersebut perlu dicermati secara mendalam.

“Patut diduga ada invisible hand atau operasi senyap di balik naiknya suara PSI itu. Patut diduga ada upaya penggelembungan suara,” kata Uchok Sky Khadafi dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (2/3).

Melihat kenaikan yang terjadi pada partai pimpinan Kaesang Pangarep ini, Uchok menilai tidak logis. Oleh sebab itu, ia mengingatkan kepada para penyelenggara pemilu bekerja independen dan transparan.

“KPU dan Bawaslu jangan main-main dengan pemilu karena bisa jadi bumerang di kemudian hari. Ingat kasus Harun Masiku (politisi PDIP), jaga independensi, jangan cawe-cawe,” tegasnya.

Uchok menegaskan kembali, pemilu sejatinya merupakan sarana menuju demokrasi yang lebih baik lagi bukan sebaliknya.

Tidak hanya PSI, Uchok juga menyoroti perolehan suara Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang notabenenya pendukung Jokowi tapi diprediksi tak lolos parlemen.

Rendahnya perolehan suara PPP diduga tidak terlepas dari sikap politik mereka yang berseberangan dengan rezim kekuasaan.

“Beda dengan suara Golkar dan PSI, mungkin rendahnya suara PPP bisa jadi karena partai itu mendukung Ganjar-Mahfud. Ibarat kata, rezim Jokowi menghabisi PPP,” tutupnya. (**)