SimpulRakyat.co.id – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kementerian Kominfo) bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menyelenggarakan seminar online, yakni Ngobrol Bareng Legislator dengan mengusung tema “Literasi Digital untuk Pemilu Damai”.

Dalam seminar Ngobrol Bareng Legislator ini, terdapat empat narasumber yang berkompeten pada bidangnya, yaitu Rachel Maryam Sayidina yang saat ini menjabat sebagai Anggota Komisi I DPR RI.

Sementara narasumber kedua, yakni Semuel Abrijani Pangerapan B.Sc selaku Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo RI serta mengundang Prof Dr Widodo Muktiyo SE M.Com selaku Guru Besar UNS.

Selain itu, dalam acara ini juga turut mengundang Rizky Hikmawan S.IP M.Si selaku Dosen Hubungan Internasional UPN Veteran Jakarta. Seminar diselenggarakan pada Jumat, 02 Februari 2024 melalui platform zoom meeting.

Seminar Ngobrol Bareng Legislator merupakan inisiasi Kementrian Kominfo yang bekerjasama dengan Komisi I DPR RI, bertujuan agar masyarakat dapat memilah dan memilih informasi yang bermanfaat dan dibutuhkan sehingga dapat menggunakan internet dengan lebih bijak, guna menjaga kedamaian pemilu di media digital.

Manfaat lain dari kegiatan ini adalah memberikan informasi yang lengkap kepada masyarakat, terkait pembangunan infarsturktur TIK yang dilakukan oleh Pemerintah, khususnya Ditjen APTIKA, serta mewujudkan komunikasi dan penyampaian informasi dengan komunikasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat, serta masyarakat dengan masyarakat lainnya.

Seminar ini terdiri dari beberapa sesi, yaitu sesi pembukaan, pemaparan materi, sesi tanya jawab, dan sesi penutup.

Sesi pemaparan diawali pengantar dari Rachel Maryam Sayidina. Dia menyampaikan bahwa diskusi ini memberikan manfaat bagi masyarakat untuk menghadapi tantangan diera digital yang berkembang sangat pesat.

Menurutnya cepatnya perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi membuahkan kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses informasi maupun berkomunikasi.

“Kemudahan-kemudahan tersebut membuat pergeseran komunikasi di masyarakat yang dulunya berkomunikasi di ruang-ruang publik kini berubah ke ruang digital, hal ini membuat banyak aktivitas masyarakat dihabiskan di ruang digital,” ungkap Rachel Maryam.

Rachel Maryam juga berharap, masyarakat dapat membantu terwujudnya pemilu yang damai di ruang digital, karena menjaga ketertiban ruang digital merupakan kewajiban seluruh lapisan masyarakat, mengingat dampaknya sangat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan.

“Melalui ruang digital, ideologi, gagasan dan pandangan dapat dengan cepat menyebar, oleh karena itu penting untuk kita menjaga ruang-ruang digital agar tercipta dinamika yang positif dan penuh toleransi,” imbuh Rachel Maryam.

Selanjutnya, sambutan dati Semuel Abrijani Pangerapan. Dalam pemaparannya, dia menyampaikan bahwa perwujudan Indonesia digital tetap menjadi salah satu prioritas utama guna mewujudkan Indonesia yang semakin digital dan semakin maju.

“Kementerian Kominfo melalui Dirjen Aplikasi Informatika terus berkomitmen dalam menyelenggarakan berbagai inisiatif dan program peningkatan literasi digital untuk mendukung upaya transformasi digital yang inklusif, pemberdayaan serta berkelanjutan,” tutur Semuel Abrijani.

Upaya transformasi digital ini, kata Semuel Abrijani, akan terus dilakukan untuk mendorong perekonomian bangsa dan membuka berbagai peluang bagi seluruh masyarakat Indonesia.

“Perkembangan teknologi digital saat ini telah merubah cara kita bekerja, cara kita berusaha dan cara kita menjalani kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, Kementerian Kominfo terus melakukan peningkatan kesadaran, pengetahuan dan kecakapan digital yang ditujukan pada 3 sektor yaitu masyarakat umum, pemerintahan dan pendidikan melalui beberapa program literasi digital.,” imbuh Semuel Abrijani.

Selanjutnya, Guru Besar UNS, Prof Dr Widodo Muktiyo pada diskusi kali ini membahas tenang Literasi Digital untuk Pemilu Damai.

Prof Dr Widodo Muktiyo mengatakan, saat ini komunikasi sudah berubah, yang dahulu TV dan radio diera sekarang sudah menggunakan media digital yang bisa digunakan dengan mudah oleh semua lapisan masyarakat.

Karena itu, Prof Dr Widodo Muktiyo mengimbau agar masyarakat bijak dalam menghadapi perubahan komunikasi dewasa ini, karena pola media digital berbeda, yaitu pola komunikasi imaginer, dan hal ini merupakan proses yang harus dihadapi masyarakat Indonesia secara bijak.

“Pemilu 2024 mengalami peningkatan jumlah pemilih, karena itu kualitas demokrasi juga harus meningkat dengan cara membuat pemilu diruang digital berjalan dengan damai dan riang gembira, hal itu tercermin dengan 5 langkah percepatan, yaitu pertama percepatan pembangunan infrastruktur digital, yang kedua mempersiapkan roadmap transformasi digital di sektro strategis, ketiga mempercepat integrasi pusat data nasional, keempat menyiapkan SDM yang baik, kelima mempercepat pembuatan skema pembiayaan dan pendanaan,” terang Prof Dr Widodo Muktiyo.

Terakhir, pemaparan dari Rizky Hikmawan, selaku Dosen Hubungan Internasional UPN Veteran Jakarta. Dalam pemaparannya, ia mengatakan dewasa ini emosi dan keyakinan pribadi berpengaruh dalam membentuk opini publik, hal ini terjadi karena perkembangan teknologi karena banyaknya arus informasi sehingga sulit untuk memeriksa kebenaran dari sebuah informasi.

Hal itu, kata Rizky Hikmawan, menimbulkan sebuah fenomena yang bernama click bait yaitu, judul konten yang berlebihan sehingga membuat orang lain tertarik, dan banyak masyarakat yang terjebak dengan click bait karena hanya melihat judulnya tetapi click bait bisa dihindari dengan membiasakan diri untuk membaca keseluruhan isi konten.

“Dengan membiasakan diri untuk membaca keseluruhan isi konten maka kemungkinan untuk terjebak click bait akan menurun karena kita mengetahui isi lengkap dan bisa merasakan apabila ada kejanggalan di dalam isi konten,” kata Rizky Hikmawan.

Selanjutnya Rizky Hikmawan menjelaskan bahwa saat ini semakin banyak ancaman digital yang bernama hoax, yaitu informasi sesat dan berbahaya karena menyesatkan persepsi manusia dengan menyampaikan informasi palsu.

“Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menanggulangi hoax, yang pertama pemerintah khususnya Kementrian Kominfo membuat sistem anti hoax, yang kedua adalah edukasi digital yaitu meningkatkan pemahaman dan kemampuan dalam menggunakan alat-alat digital dan meningkatkan literasi digital,  dan yang terakhir adalah meningkatkan kebijaksanaan diri yaitu menghilangkan emosi dalam memahami sebuah informasi,” pungkas Rizky Hikmawan.

Para narasumber sepakat bahwa perkembangan sangat pesat dewasa ini, maka dari itu diperlukan pendidikan digital untuk masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan digital masyarakat.

Jangan sampai terjebak oleh informasi yang tidak benar lalu membuat masyarakat terpecah belah, seluruh lapisan masyarakat harus menjaga pemilu tetap damai.

Setelah pemaparan materi oleh para narasumber dilanjutkan denngan sesi tanya, kemudian dilanjutkan dengan closing statement dari narasumber dan diakhiri dengan penutup oleh MC.