SimpulRakyat.co.id, Amerika Serikat – Sebagai dampak covid-19 yang tak kunjung tuntas, perekonomian Amerika Serikat pun turut ‘porak-poranda’.
Hal tersebut berdampak pada 42 juta warganya terpaksa kena pemutusan hubungan kerja (PHK) sebagaimana yang dikutip dari AFP, data per Kamis (4/6) kemarin.
Dari 42 juta orang itu, Departemen Tenaga Kerja AS mengungkapkan sebanyak 1,87 juta pekerja telah mengajukan klaim tunjangan pengangguran pada pekan lalu. Namun, jumlah itu berkurang 249 ribu dari pekan sebelumnya.
Kendati demikian, angka tersebut tetap tiga kali lebih tinggi dari rekor pengajuan klaim tunjangan pengangguran mingguan saat pra-pandemi.
“Indikator lain menunjukkan pasar tenaga kerja membaik, namun bisa kembali memburuk dengan cepat,” tulis Senior Fellow di the Center on Budget and Policy Priorities Jared Bernstein, Kamis (4/6).
Diketahui, penurunan jumlah pengajuan klaim pengangguran yang disebabkan penutupan sektor bisnis sejak Maret lalu, menunjukkan gelombang PHK telah melambat. Indikator lainnya adalah data sebanyak 21,5 juta orang penerima klaim tunjangan pengangguran telah berakhir pada 23 Mei.
Data ini menjadi sebuah indikasi bahwa jutaan orang telah menolak klaim tunjangan pengangguran mereka. Artinya sejak 23 Mei ada kemungkinan mereka telah dipekerjakan kembali.
Namun, angka jumlah pengangguran di AS pada Mei diperkirakan akan mengalami kenaikan saat Departemen Tenaga Kerja mengumumkan data terbaru pada Jumat (5/6) waktu setempat. Perkiraannya naik ke angka 20 persen dibandingkan 14,7 persen pada April lalu. (**)


Tinggalkan Balasan