SimpulRakyat.co.id, Sosok – Kabar duka datang dari Sulawesi Barat. Wakil Gubernur Sulawesi Barat, Salim Sayyid Mengga, wafat.

Kepergian purnawirawan perwira tinggi TNI Angkatan Darat itu meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi masyarakat Sulawesi Barat yang baru saja ia pimpin bersama Gubernur Suhardi Duka.

Salim dikenal sebagai sosok prajurit, politisi, sekaligus tokoh Mandar dengan rekam jejak panjang dalam pengabdian kepada negara.

Ia dilantik sebagai Wakil Gubernur Sulawesi Barat bersama Suhardi Duka oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara pada Kamis (20/2/2025) lalu.

Latar belakang militer yang kuat serta kedekatannya dengan Presiden Prabowo menjadi bagian penting dari perjalanan hidup Salim, yang membentuk karakternya sebagai pemimpin yang tegas sekaligus terbuka terhadap masyarakat.

Anak Pejuang dari Tanah Mandar

Salim Sayyid Mengga lahir di Pambusuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, pada 24 Agustus 1951.

Ia merupakan putra Kolonel Infanteri (Purn) Sayyid Mengga Al-Attas, seorang tokoh pejuang kemerdekaan yang dikenal menentang pemerintahan Hindia Belanda di Tanah Mandar.

Sebagai anak seorang pejuang, Salim menapaki jalan pengabdian melalui dunia militer. Semangat itu pula yang membawanya menjalani karier panjang di TNI Angkatan Darat.

Di lingkup keluarga, ia juga dikenal sebagai kakak dari Aladin Sayyid Mengga, yang pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur Sulawesi Barat.

Seangkatan dengan Prabowo

Salim merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1974. Ia satu angkatan dengan Presiden Prabowo Subianto, serta sejumlah perwira tinggi lain, antara lain Sjafrie Sjamsoeddin, Ryamizard Ryacudu, Tanribali Lamo, Setya Purwaka, TB Hasanuddin, dan Tri Tamtomo.

Dalam sebuah kampanye di Desa Lalatedong, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, Senin (14/10/2024) silam, Salim sempat mengenang masa-masa awal pendidikannya di dunia militer.

“Saat itu saya satu-satunya dari Sulbar mendaftar akademi militer. Saya bersama-sama dengan Prabowo Subianto, Sjafrie Sjamsoeddin, dan teman-teman lainnya,” ujar Salim saat itu.

Ia juga menyebut, selama berkarier di militer, dirinya kerap masuk dalam lima besar terbaik di Angkatan Darat.

Karier Militer Panjang

Karier Salim di TNI AD terbilang panjang. Ia mengawali penugasan sebagai perwira kavaleri, antara lain di Yonkav 10 Kodam XIV/Hasanuddin.

Sejumlah jabatan strategis pernah ia emban, mulai dari Komandan Kompi, Kepala Seksi Logistik, hingga Komandan Yonkav 2 Kodam IV/Diponegoro.

Ia juga pernah menjabat sebagai Komandan Kodim 0716/Demak dan Komandan Korem 141/Toddopuli pada 1997.

Puncak karier militernya terjadi saat ia dipercaya menjabat sebagai Panglima Kodam XV/Pattimura pada periode 2005-2006.

Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Komandan Kodiklatad.

Salim resmi pensiun dari dinas militer pada 2006 silam, setelah mengabdi selama sekitar 32 tahun sejak lulus Akmil.

Dari Militer ke Politik

Usai pensiun, Salim melanjutkan pengabdian melalui jalur politik.

Ia terpilih sebagai anggota DPR RI dari Partai Demokrat selama dua periode, yakni 2009-2014 dan 2014-2019.

Di parlemen, ia pernah bertugas sebagai anggota Badan Kehormatan DPR RI.

Salim juga sempat mengikuti kontestasi Pilkada Polewali Mandar, meski belum berhasil.

Pada Pilkada 2024, ia kembali maju ke panggung politik daerah sebagai calon Wakil Gubernur Sulawesi Barat.

Berpasangan dengan Suhardi Duka dan diusung oleh tujuh partai politik, yaitu Partai Demokrat, NasDem, PKS, PSI, Gelora, Partai Buruh, dan Partai Ummat.

Pasangan ini berhasil memenangkan Pilgub Sulbar 2024 dengan perolehan 337.512 suara.

Sosok Keluarga dan Figur Publik

Dalam kehidupan pribadi, Salim menikah dengan Fatmawaty dan dikaruniai tiga orang anak.

Di mata banyak kalangan, ia dikenal sebagai sosok yang tegas dan disiplin, namun tetap dekat dengan masyarakat, khususnya di wilayah Mandar yang menjadi tanah kelahirannya.

Kepergian Salim Sayyid Mengga menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang prajurit yang beralih menjadi politisi dan pemimpin daerah.

Jejak pengabdiannya, baik di militer, parlemen, maupun pemerintahan daerah, akan terus dikenang oleh masyarakat Sulawesi Barat.