SimpulRakyat.co.id, Pangkep – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pangkep menyesalkan tindakan tidak manusiawi manajemen Kapal Perintis Amukti Palapa yang menurunkan paksa jenazah penumpangnya, Rusli (40), di Pulau Balo-baloang, Kecamatan Liukang Tangaya, Kabupaten Pangkep.
Diketahui, Rusli adalah warga Kelurahan Sapuka, Kecamatan Liukang Tangaya. Peristiwa itu terjadi saat kapal yang ditumpanginya berlayar dari Pulau Sapuka, Pangkep-Pelabuhan Paotere, Kota Makassar, Senin (9/1/2023) lalu.
“Kejadian ini mengiris rasa kemanusiaan kita semua, sudah berulang kali terjadi dengan problem terbatasnya akses transportasi dan fasilitas kesehatan yang kurang memadai, khususnya di wilayah kepulauan Pangkep,” sesal Ketua Umum HMI Cabang Pangkep, Ahmad Amiruddin ke media ini di Pangkajene, Rabu (11/1/2023) kemarin.
Lanjut dikatakan, pihaknya meminta manajemen kapal perintis tersebut dievaluasi terkait peristiwa ini. Selain itu, HMI Pangkep juga secara tegas meminta pemerintah kabupaten (Pemkab) bertanggung jawab atas kejadian ini.
“Besar harapan kami bahwa Pemda Pangkep harus bersikap atas kejadian ini, sektor kesehatan harus jadi prioritas dalam kerangka pembangunan karena berkaitan dengan kemanusiaan, khususnya di wilayah kepulauan, utamanya terkait optimalisasi tenaga kesehatan dan stok obat-obatan,” tegas dia.
“Ini harus jadi komitmen bersama, dan perlu juga diingat kami akan terus tagih janji Bupati Pangkep terkait penempatan satu dokter satu desa yang semestinya harus menjadi prioritas,” pungkas Ahmad Amiruddin.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Liukang Tangayya, Surianti Sattuang membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia menyebut, Rusli meninggal dunia di tengah perjalanan menuju Kota Makassar.
“Pasien meninggal dalam perjalanan ke Makassar untuk mendapatkan perawatan medis, namun keterbatasan stok oksigen dikarenakan kurangnya persediaan akibat dari kondisi cuaca ekstrem,” ungkap Surianti.

Sekadar diketahui, berdasarkan informasi yang dihimpun media ini, jenazah Rusli langsung diturunkan di Pulau Balo-baloang dan dibawa kembali ke Pulau Sapuka.
Rusli meninggal dunia di kapal karena sakit. Almarhum sebelumnya hendak dirujuk ke kota Makassar untuk berobat lantaran minimnya fasilitas kesehatan di Kepulauan Pangkep itu.
Rusli dilaporkan meninggal di tengah laut setelah menempuh perjalanan selama delapan jam menuju kota Makassar.
Baca Juga: Miris, Jenazah Penumpang Kapal Perintis Amukti Palapa Diturunkan Paksa
Sebelumnya diberitakan, pihak keluarga, H Saharuddin selaku mertua almarhum merasa kecewa dan menyayangkan keputusan pihak kru kapal tersebut.
“Saya sudah meminta dan memohon kepada Kapten Amukti Palapa agar menantu saya jangan diturunkan di Pulau Balo-baloang dan tetap dilanjutkan ke Makassar karena rencananya mau dimakamkan di Makassar,” katanya.
“Tapi, kapten kapal menolak dan tetap menurunkan almarhum di Pulau Balo-baloang,” pungkas Saharuddin. (FW)


Tinggalkan Balasan