SimpulRakyat.co.id, Pangkep – PT Semen Tonasa menekankan agar pelaksanaan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi mampu memberikan manfaat nyata dan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.
Penekanan itu disampaikan dalam pembekalan RKAPM 2026 yang diikuti 12 forum desa dan kelurahan di wilayah lingkar perusahaan di Kantor Pusat PT Semen Tonasa, Kabupaten Pangkep, Rabu (2/9/2026).
Ketua Koordinator Pendampingan TJSL PT Semen Tonasa, Ahyar, mengatakan pembekalan menjadi momentum bagi forum untuk mempersiapkan pelaksanaan program setelah proses pencairan dana.
“Pembekalan ini penting dilaksanakan karena bertepatan dengan proses pencairan program dan persiapan realisasi kegiatan forum,” kata Ahyar.
Sementara itu, SM of TJSL PT Semen Tonasa, Abbas, yang membuka kegiatan, menekankan pentingnya kesiapan administrasi sejak program mulai dilaksanakan.
Menurut dia, proses administrasi yang tertib sejak awal akan memudahkan pelaksanaan dan pelaporan program, sekaligus menjadi pembelajaran untuk penyusunan program pada tahun berikutnya.
“Kami berharap agar proses administrasi dan kelengkapan dokumen tahun berjalan dapat menjadi pembelajaran untuk mempercepat proses pelaksanaan program tahun berikutnya,” ujar Abbas.
Abbas mengingatkan forum agar segera mengumpulkan bukti transaksi setiap kali terjadi penggunaan dana. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah penumpukan administrasi dan pelaporan pada akhir kegiatan.
“Pengumpulan bukti transaksi dilakukan segera setelah transaksi, agar proses administrasi dan pelaporan tidak menumpuk di akhir kegiatan,” tambah dia.
Selain memastikan program 2026 berjalan sesuai rencana, Abbas meminta calon program untuk 2027 mulai diidentifikasi sejak dini. Dengan begitu, kebutuhan masyarakat dan kesiapan setiap program dapat dipetakan sebelum memasuki tahap pelaksanaan.
Manajemen TJSL PT Semen Tonasa juga meminta forum dan pendamping segera berkoordinasi jika menemukan kendala dalam pelaksanaan program di lapangan.
“Apabila terdapat kendala dalam pelaksanaan program, pendamping dan forum tolong segera menyampaikan kepada manajemen agar dapat dicarikan solusi,” pinta Abbas.
Abbas juga menyebut pemenuhan perizinan sebagai salah satu kendala yang masih dihadapi sejumlah usaha mikro dan kecil (UMK) binaan.
Menurut dia, pihaknya siap membantu melakukan koordinasi apabila kelompok UMK mengalami kendala dalam proses perizinan, termasuk yang berkaitan dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
“Untuk beberapa program UMK yang masih mengalami kendala, kami dari manajemen TJSL PT Semen Tonasa akan membantu melakukan koordinasi, termasuk apabila terdapat kendala dalam proses perizinan seperti BPOM,” ujarnya.

Bukan Sekadar Bantuan
Saat memberikan pembekalan, Penanggung Jawab Pendamping Program, Ruslan Ali, menjelaskan bahwa keberhasilan program TJSL tidak cukup diukur dari terlaksananya kegiatan atau tersalurkannya bantuan.
Menurut dia, ukuran keberhasilan juga terletak pada manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat serta kemampuan mereka untuk berkembang secara mandiri.
“Program TJSL PT Semen Tonasa pada prinsipnya diarahkan untuk memberikan manfaat nyata kepada masyarakat, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan dasar, peningkatan kapasitas, penguatan kemandirian ekonomi, serta pengembangan potensi masyarakat di wilayah Ring 1,” kata Ruslan.
Dia menjelaskan, program TJSL mencakup kegiatan fisik, nonfisik, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat atau community development. Khusus pada program pemberdayaan, orientasinya adalah meningkatkan kemampuan masyarakat agar dapat mengelola potensi yang dimiliki secara berkelanjutan.
“Program pemberdayaan tidak semata-mata berorientasi pada pemberian bantuan, tetapi diarahkan pada peningkatan pengetahuan, keterampilan, kapasitas, dan kemandirian masyarakat agar mampu mengelola potensi yang dimiliki secara berkelanjutan,” lanjut dia.
Karena itu, kata Ruslan, setiap program perlu direncanakan berdasarkan kebutuhan masyarakat. Proses tersebut dilakukan melalui tahapan verifikasi, presentasi, pemantauan, dan evaluasi untuk memastikan program yang dijalankan memenuhi kriteria pemberdayaan.
Ruslan juga mengatakan, realisasi program TJSL 2026 sejauh ini menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Meski demikian, seluruh target masih perlu terus didorong agar dapat diselesaikan sesuai waktu yang telah ditetapkan.
“Program TJSL diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mendukung upaya pengurangan tingkat kemiskinan di Kabupaten Pangkep,” kata Ruslan.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Ruslan menilai diperlukan kerja kolaboratif antara manajemen TJSL, tim pendamping, serta forum desa dan kelurahan. Masing-masing memiliki tugas yang berbeda dalam memastikan program berjalan sesuai rencana.
“Manajemen TJSL PT Semen Tonasa berperan menetapkan kebijakan strategis, pagu anggaran, dan indikator keberhasilan, sekaligus melakukan pengawasan dan evaluasi,” ungkap dia.
Sementara itu, kata Ruslan, tim pendamping menjadi fasilitator dalam perencanaan, penyusunan RKAPM dan dokumen teknis, sekaligus penghubung antara perusahaan dan masyarakat.
“Adapun forum desa dan kelurahan menjadi mitra strategis yang mengelola kegiatan, melaksanakan pengadaan sesuai ketentuan, serta menyusun laporan pertanggungjawaban,” lanjutnya.
Ruslan menegaskan, pembagian tugas tersebut perlu ditopang koordinasi yang baik agar pelaksanaan program tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Ketiga unsur tersebut harus bekerja secara kolaboratif dan menjadikan Juklak atau Petunjuk Pelaksanaan sebagai rujukan utama dalam menjalankan program,” tandas Ruslan.
Menurut dia, pembagian peran tersebut penting agar pelaksanaan program tidak berjalan sendiri-sendiri. Koordinasi, komunikasi, dan kesepakatan bersama harus menjadi dasar dalam setiap tahapan kegiatan.
Sekadar diketahui, pembekalan RKAPM 2026 tersebut juga dirangkaikan dengan penandatanganan pakta integritas sebagai bentuk komitmen bersama dalam melaksanakan program TJSL sesuai ketentuan dan tujuan pemberdayaan masyarakat. (*)


Tinggalkan Balasan