SimpulRakyat.co.id, Makassar – Kebijakan TK Mutiara Islamic School, Kota Makassar, yang meminta seorang anak berkebutuhan khusus (ABK) mengikuti kegiatan belajar dari rumah untuk sementara waktu menuai keberatan dari orangtuanya. Kebijakan itu diambil setelah siswa tersebut beberapa kali menggigit teman sekelasnya.
Ibu siswa, Marwanti, mengatakan putranya, Ammar Fathee Karim, diminta tidak mengikuti pembelajaran tatap muka sejak Rabu (5/8/2026). Menurut dia, keputusan tersebut disampaikan melalui pesan singkat dari Ketua Yayasan Mutiara Islamic School.
Marwanti menjelaskan, peristiwa bermula pada Senin (3/8/2026) ketika dirinya menjemput Ammar di sekolah. Saat itu, wali kelas menyampaikan bahwa Ammar kembali menggigit salah seorang teman sekelasnya.
“Saya langsung meminta maaf kepada orangtua anak yang menjadi korban karena saya menyadari perbuatan anak saya memang tidak benar,” kata Marwanti, Kamis (6/8/2026).
Dia mengaku kembali menyampaikan permohonan maaf kepada Ketua Yayasan melalui sambungan telepon. Dalam kesempatan itu, Marwanti menjelaskan bahwa Ammar merupakan anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) yang masih menjalani terapi.
Menurut Marwanti, keluarga korban telah memaafkan peristiwa tersebut dan tidak mempermasalahkannya lebih lanjut.
Keesokan harinya, Selasa (4/8/2026), Marwanti menemui pihak sekolah untuk meminta kejelasan mengenai status pendidikan putranya. Dalam pertemuan itu, pihak sekolah menyampaikan bahwa guru mengalami kesulitan memberikan perhatian kepada Ammar karena harus menangani 18 siswa dalam satu kelas.
Marwanti mengaku sempat menawarkan diri untuk mendampingi anaknya selama proses belajar di kelas. Namun, hingga saat itu, ia belum memperoleh kepastian mengenai berapa lama Ammar harus belajar dari rumah.
Menurut Marwanti, pesan dari pihak yayasan yang menyebut Ammar belajar dari rumah “sampai sembuh” menjadi hal yang paling disesalkannya.
“Anak ASD dan ADHD bukan sakit. Mereka hanya perlu dipahami, diterima, dan didampingi,” ujarnya.
Marwanti juga mengatakan telah menyampaikan kondisi Ammar sejak proses pendaftaran sekolah, termasuk kebiasaan anaknya yang dapat menggigit ketika mengalami kesulitan mengendalikan emosi.
Selama lebih dari dua pekan bersekolah, kata dia, Ammar tercatat tiga kali menggigit teman. Setiap kejadian, ia mengaku selalu mendatangi orangtua siswa yang menjadi korban untuk meminta maaf.
Karena itu, Marwanti berharap sekolah memberikan kejelasan mengenai mekanisme penanganan kasus tersebut, termasuk batas waktu belajar dari rumah dan prosedur agar anaknya dapat kembali mengikuti pembelajaran tatap muka.
“Saya tidak mendapat surat peringatan ataupun penjelasan mengenai sampai kapan anak saya harus belajar di rumah. Saya hanya ingin ada kepastian dan keadilan bagi anak saya,” katanya.
Sementara itu, Kepala TK Mutiara Islamic School, Nurul Fadilla Mutiara, tidak memberikan penjelasan lebih lanjut dan meminta agar konfirmasi disampaikan kepada pihak yayasan.
“Maaf Pak, saya barusan bicara sama Ketua Yayasan. Silakan segala klarifikasi dan konfirmasi sama yayasan,” ujarnya.
Ketua Yayasan Mutiara Islamic School, Hj. Mihadirah, membantah adanya keputusan mengeluarkan Ammar dari sekolah. Menurut dia, yayasan hanya menghentikan sementara pembelajaran tatap muka sebagai langkah pencegahan agar tidak ada lagi siswa lain yang menjadi korban.
“Anaknya tidak dikeluarkan, hanya diistirahatkan sementara sampai sembuh karena menyakiti teman-temannya. Kami tidak mau ada lagi anak-anak yang menjadi korban. Kami tidak mengeluarkan, tetapi mengistirahatkan atau belajar di rumah untuk sementara,” kata Mihadirah.
Dia menambahkan, kebijakan tersebut dimaksudkan agar Ammar dapat melanjutkan terapi hingga kondisinya dinilai memungkinkan untuk kembali mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Mihadirah juga menyatakan pihak sekolah tidak memperoleh informasi sejak awal bahwa Ammar memiliki kebiasaan menggigit teman.
“Dari awal masuk sekolah tidak ada penyampaian jika ananda suka menggigit, baik kepada pihak administrasi maupun Kepala Sekolah. Informasi itu hanya disampaikan kepada guru kelas dan grup kelas,” pungkasnya.
Hingga Kamis (6/8/2026), pihak yayasan belum menjelaskan secara rinci mekanisme evaluasi, batas waktu belajar dari rumah, maupun syarat yang harus dipenuhi agar Ammar dapat kembali mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah. (James)


Tinggalkan Balasan