SimpulRakyat.co.id, Makassar – Makna kekayaan tidak selalu berkaitan dengan banyaknya harta. Kekayaan juga dapat dimaknai sebagai ketenangan hati, keluasan ilmu, keteguhan iman, akhlak, serta kemampuan memberi manfaat bagi orang lain.
Gagasan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam bedah buku Ngaji Sugih karya Hj Soraya, yang digelar di Hotel Aryaduta Makassar, Sabtu (22/8/2026).
Dalam pemaparannya, Soraya mengatakan, buku tersebut tidak dibuat sebagai panduan instan untuk mencapai kekayaan materi. Menurut dia, pencarian harta tetap merupakan hal yang sah selama dilakukan dengan cara halal dan menempatkan harta sebagai alat sekaligus amanah.
“Pemaknaan ini lahir dari perenungan perjalanan hidup. Kita sering menemui pribadi yang tampak sederhana namun memiliki ketenangan luar biasa, sementara ada pula yang berlimpah materi namun selalu merasa kurang,” ujar Soraya.
Dia menilai, ketenangan dan kebahagiaan sejati tidak semata-mata diperoleh dari kecukupan materi, tetapi melalui hubungan yang harmonis dengan Tuhan. Hal itu, kata dia, dibangun melalui ikhtiar, tawakal, rasa syukur, serta upaya membersihkan diri secara konsisten.
Soraya juga mengajak pembaca berdamai dengan masa lalu dan menjadikan pengalaman hidup, termasuk luka, sebagai sumber empati dan pembelajaran. Ia menekankan pentingnya menjaga pemahaman keagamaan agar proses pencarian makna spiritual tidak bergeser ke praktik yang bertentangan dengan nilai tauhid.
Founder Komunitas Anak Pelangi Rahman Rumaday yang bertindak sebagai penyelaras buku mengungkapkan proses panjang penyusunan Ngaji Sugih.
Menurut Rahman, draf awal buku tersebut mencapai sekitar 560 halaman. Setelah melalui proses penyaringan dan pemadatan, naskah itu menjadi 340 halaman dalam edisi cetak.
Dia menilai proses penyelarasan diperlukan agar gagasan penulis dapat tersampaikan secara utuh kepada pembaca.
Sementara itu, Prof Dr Sukardi Weda menilai Ngaji Sugih tidak mengajarkan pembaca untuk mengabaikan kehidupan dunia. Sebaliknya, buku tersebut mendorong pembaca menata kembali prioritas hidup.
Menurut Sukardi, ikhtiar dalam bidang ekonomi tetap penting. Namun, keberhasilan tersebut idealnya berjalan beriringan dengan pembentukan karakter, kerendahan hati, dan kedekatan kepada Tuhan.
Sukardi juga menyarankan agar Ngaji Sugih diterjemahkan ke sejumlah bahasa asing, seperti Inggris, Perancis, dan Arab. Ia turut merekomendasikan penambahan epilog pada edisi berikutnya untuk memperkuat jembatan antara gaya ilmiah dan nuansa sastra yang digunakan dalam buku.
Adapun Ustadz Muhammad Amir Jaya membedah buku tersebut dari perspektif tasawuf. Ia menilai proses kreatif Soraya menunjukkan adanya dorongan spiritual dalam melahirkan karya tersebut.
Amir juga mengingatkan bahwa aktivitas menulis dapat menjadi bentuk amal yang meninggalkan manfaat dalam jangka panjang.
Bedah buku tersebut dipandu jurnalis Arwan D Awing. Selain para pembedah, acara turut dihadiri sejumlah pegiat seni dan literasi, antara lain sastrawan Yudhistira Sukatanya, pasanjak Mangkasara Syahril Patakaki, penyair Andi Marliah dan Andi Ruhban, serta perwakilan Pengusaha Menulis Buku Indonesia (PEMBIS) dan Dinas Perpustakaan Kota Makassar. (James)


Tinggalkan Balasan