SimpulRakyat.co.id, Makassar – SMA Negeri 19 Makassar memanfaatkan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026 untuk membangun karakter siswa baru melalui pendidikan anti-perundungan, pencegahan kekerasan seksual, serta perlindungan saksi dan korban, Rabu (15/07/2026).

Pada hari kedua pelaksanaan (14/7/2026), sekolah menghadirkan narasumber dari UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) DP3A Dalduk KB Provinsi Sulawesi Selatan serta Sahabat Saksi dan Korban (SSK) Sulsel. Edukasi ini diberikan kepada ratusan siswa baru guna menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas kekerasan.

Wakil Kepala SMAN 19 Makassar, Sultan Arifuddin, S.Pd., menjelaskan kegiatan mengacu pada Petunjuk Teknis Kemendikdasmen berdurasi lima hari ditambah pra-MPLS.

“Tema kami ‘MPLS Ramah Anak’. Seluruh kegiatan disusun sesuai aturan dengan penguatan karakter dan tujuh kebiasaan anak sehat. Kami juga menghadirkan pemateri luar agar wawasan siswa lebih luas, khususnya soal perlindungan anak,” ujarnya.

Materi diharapkan membentuk kesadaran siswa mengenali bahaya perundungan, kekerasan verbal maupun nonverbal, serta berbagai bentuk kekerasan di sekolah maupun media sosial.

“Kami harap siswa mampu menjaga diri, menghormati sesama, paham batasan pergaulan, dan sadar hukum hadir melindungi mereka. Ini bekal kehidupan sehari-hari,” katanya.

Kepala Seksi Tindak Lanjut UPT PPA DP3A Dalduk KB Sulsel, Mariani, S.E., M.Si., mengingatkan masa transisi SMP ke SMA butuh perhatian serius guru dan orang tua. Perkembangan teknologi membawa tantangan baru seperti praktik grooming dan kekerasan seksual berbasis digital.

“Anak butuh pengawasan lebih. Mereka harus berani berbicara atau speak up jika mengalami atau mengetahui kekerasan. Jangan jadi korban karena tak paham modus kejahatan saat ini,” tegas Mariani.

Ia berharap edukasi ini tidak hanya saat MPLS, melainkan berkelanjutan. Melalui program Go To School, DP3A Sulsel akan terus menyosialisasikan ke berbagai sekolah.

Pendamping SSK Sulsel, Nunuk Songki, S.H., memberikan materi “Remaja Peduli Saksi dan Korban”. Ia mengajak siswa memiliki empati, keberanian, dan kepedulian terhadap korban.

“Jangan jadi pelaku atau pembiar. Jadilah pelopor berani melapor jika melihat perundungan, kekerasan fisik, seksual, atau lainnya. Kepedulian pada saksi dan korban bagian dari pendidikan karakter,” ujarnya.

Ketua OSIS SMAN 19 Makassar, Marsha Kuinza, menjelaskan rangkaian diawali kegiatan Pagi Ceria: senam, menyanyikan Indonesia Raya, dan doa bersama sebelum masuk materi. MPLS berlangsung lima hari ditutup dengan pengenalan organisasi siswa dan ekstrakurikuler.

“Tema tahun ini ‘Hero’. Kami ingin siswa jadi pahlawan bagi diri sendiri dan orang sekitar. Harapannya nyaman belajar dan tumbuh bertanggung jawab,” katanya.

Dukungan juga disampaikan Komite sekaligus Pendamping SSK Sulsel, Indah Amriani. Ia mengapresiasi komitmen sekolah rutin menghadirkan edukasi perlindungan anak setiap MPLS.

Maraknya kasus perundungan, kekerasan seksual, dan kejahatan digital menjadi alasan utama pendidikan ini wajib diberikan sejak awal masuk sekolah.

“Anak harus tahu haknya, paham bentuk kekerasan, dan berani cari pertolongan. Perlindungan anak tanggung jawab bersama sekolah, keluarga, pemerintah, dan masyarakat,” ujar Indah.

Ia berharap siswa baru menjadi agen perubahan yang mewujudkan sekolah aman, ramah anak, bebas perundungan dan kekerasan.

“Jangan takut speak up. Semoga semangat MPLS Ramah 2026 melahirkan generasi berkarakter, peduli, berani melindungi diri dan orang lain, serta menjunjung nilai kemanusiaan,” tutupnya.