SimpulRakyat.co.id, Makassar – Di balik hamparan gunung sampah Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Tamangapa, Antang, tersimpan harapan besar ratusan anak yang bermimpi mengubah masa depan melalui pendidikan.

Momentum Hari Anak Nasional 2026 dimanfaatkan Yayasan Pabbata Ummi Lino (Yapta-UL) bersama sejumlah Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) untuk menegaskan bahwa setiap anak Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang layak, tanpa memandang kondisi sosial maupun ekonomi keluarganya.

Mengusung tema “Suara Anak Pinggiran dari Puncak Gunung Sampah”, peringatan digelar di Sanggar Kegiatan Warga (SKW) Yapta-UL, sekitar 50 meter dari gerbang TPAS Tamangapa, Senin (27/7).

Kegiatan dihadiri Anggota DPR RI Dapil Sulsel I, Syamsu Rizal Marsuki Ibrahim atau Daeng Ical, unsur Pemerintah Kota Makassar, para kepala sekolah, tokoh masyarakat, serta puluhan OMS bidang perlindungan anak.

Dalam kesempatan tersebut, Daeng Ical secara simbolis menyerahkan 146 beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) kepada anak-anak dari keluarga pemulung dan masyarakat kurang mampu yang menjadi anak dampingan Yapta-UL.

Menurut Daeng Ical, kemiskinan tidak boleh menjadi alasan bagi seorang anak kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan. Ia menegaskan bahwa masa depan anak tidak ditentukan oleh latar belakang keluarganya, melainkan oleh kesempatan belajar dan semangat mengembangkan diri.

“Bisa saja, ada anak-anak dari tempat ini yang suatu saat menjadi presiden atau pemimpin bangsa,” tegas Daeng Ical.

Mantan Penjabat Wali Kota Makassar itu juga mengingatkan bahwa keberhasilan anak tidak bergantung pada seberapa dikenal orang tuanya, melainkan pada kualitas pendidikan yang diterimanya. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat membuka akses pendidikan bagi anak-anak kawasan marginal.

Sementara itu, Ketua Harian Yapta-UL, Makmur, mengungkapkan peringatan dilaksanakan beberapa hari setelah tanggal resminya karena pertimbangan teknis, namun tidak mengurangi makna perjuangan hak anak, khususnya keluarga pemulung di sekitar TPAS Tamangapa.

Makmur menyampaikan apresiasi kepada Daeng Ical yang telah memperjuangkan beasiswa PIP. Meski demikian, masih terdapat sekitar 62 anak yang hingga kini belum memperoleh bantuan serupa.

“Kami berharap perjuangan ini terus berlanjut sehingga seluruh anak dampingan kami dapat memperoleh beasiswa dan kesempatan pendidikan yang sama,” ujarnya.

Selain PIP, Yapta-UL juga mengapresiasi Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Achi Soleman, S.STP., M.Si., yang secara pribadi memberi beasiswa kepada 13 anak dampingan sepuluh dari keluarga kurang mampu, dua yatim, dan satu penyandang disabilitas.

Menurut Makmur, dukungan ini membuktikan bahwa pemenuhan hak anak butuh kolaborasi pemerintah, wakil rakyat, lembaga pendidikan, OMS, dan seluruh elemen masyarakat.

Perayaan berlangsung meriah, dihadiri lebih dari seratus anak beserta orang tua dan warga sekitar. Berbagai OMS seperti WALHI Sulsel, LBH Makassar, PKBI Sulsel, LPA Sulsel, Yayasan Rumah Mama, Yayasan Jati, Yasindo, Yasmib, Balla Inklusi, Societas Initiative, Transformasi Anak Muda Celebes, LBH Maros, SPRT Paraikatte, hingga Info Celebes turut berpartisipasi.

Melalui peringatan ini, Yapta-UL dan mitra menegaskan anak-anak yang tumbuh di tengah keterbatasan ekonomi dan lingkungan TPAS tetap berhak atas pendidikan, perlindungan, dan kesempatan meraih cita-cita. Dari puncak gunung sampah Tamangapa, harapan itu terus hidup, bahwa masa depan Indonesia juga dibangun oleh anak-anak yang hari ini berjuang di tengah kerasnya kehidupan.