SimpulRakyat.co.id, Makassar – Upaya mewujudkan Kota Makassar bebas sampah terus mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat. Terbaru, warga RT 02 dan RT 03 RW 03 Kelurahan Kalukuang, Kecamatan Tallo, menunjukkan partisipasi aktif dengan menggelar sosialisasi pengelolaan sampah berbasis maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF), Minggu (21/6).

Kegiatan yang diinisiasi Ketua RT 02 RW 03, Risma Asriani Azis G., bersama Ketua RT 03 RW 03, Hj. Nurhana, ini menjadi langkah awal untuk mengedukasi warga agar mampu mengurangi volume sampah organik yang selama ini berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa Antang.

Risma menyatakan, warga di wilayahnya berkomitmen mendukung program Pemerintah Kota Makassar mewujudkan konsep Zero Waste atau bebas sampah. Menurutnya, pemanfaatan maggot sebagai pengurai alami dinilai menjadi solusi yang efektif dan mudah diterapkan di lingkungan rumah tangga.

“Hari ini kita mulai dengan sosialisasi. Ke depan akan ada pendampingan agar masyarakat bisa membudidayakan maggot secara mandiri. Fokus kami adalah mencari cara tercepat mengurai sampah organik agar tidak langsung dibuang ke TPA,” ujarnya.

Selain menghadirkan aktivis lingkungan sebagai narasumber, kegiatan ini juga melibatkan penyuluh dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar untuk memberikan pemahaman menyeluruh mengenai pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Risma berharap program ini tidak berhenti sebatas sosialisasi, melainkan berlanjut dengan pendampingan intensif hingga warga benar-benar mampu mengelola sampah organik secara mandiri.

“Selain budidaya maggot, warga juga akan didorong memilah sampah organik dan anorganik, membuat kompos, serta memanfaatkan pekarangan untuk bercocok tanam. Tujuannya agar jumlah sampah yang masuk ke TPA Tamangapa terus berkurang,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Yapta UI Edufarm, Makmur, S.Sos., yang hadir sebagai pemateri, mengapresiasi inisiatif warga Kalukuang tersebut. Ia menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat merupakan kunci utama mengatasi persoalan sampah yang selama ini menjadi tantangan besar bagi Kota Makassar.

Berdasarkan pengalamannya selama hampir tiga dekade berkecimpung di kawasan TPA Tamangapa, Makmur menjelaskan bahwa mayoritas sampah yang menumpuk berasal dari limbah organik yang tidak dikelola sejak dari sumbernya.

“Selama 30 tahun kami beraktivitas di sana, kami melihat langsung sampah organik menjadi penyumbang terbesar. Sampah ini bercampur dengan plastik, kertas, dan limbah lain hingga menumpuk menjadi gunungan,” jelasnya.

Ia menyebutkan, sampah organik dapat mencapai 50–70 persen dari total timbunan sampah di TPA. Oleh karena itu, pengolahan di tingkat rumah tangga menjadi langkah strategis untuk meringankan beban lingkungan.

Melalui Yapta UI Edufarm, Makmur dan timnya telah mengembangkan sistem pengolahan limbah organik dengan memanfaatkan maggot sebagai pengurai alami sekaligus bahan pakan alternatif yang bernilai ekonomi tinggi.

“Maggot sangat efektif mengurai sampah. Larva ini mampu mengolah ratusan kilogram sampah organik setiap hari, bahkan bisa mencapai tonase tertentu dalam sebulan,” ungkapnya.

Melihat kondisi penumpukan sampah yang semakin mengkhawatirkan, Makmur menekankan perlunya peran aktif masyarakat luas. Ia menyatakan siap memberikan edukasi dan pendampingan bagi warga yang ingin menerapkan metode ini.

“Pengolahan dengan maggot tidak hanya meringankan beban TPA, tetapi juga bisa menjadi peluang ekonomi. Kami siap berbagi pengetahuan dan mendampingi siapa saja yang ingin mengembangkannya,” pungkasnya.

Program yang digagas warga RT 02 dan RT 03 RW 03 Kelurahan Kalukuang ini diharapkan dapat menjadi contoh kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan pegiat lingkungan dalam mempercepat terwujudnya Kota Makassar yang bersih, sehat, dan bebas dari persoalan sampah.