SimpulRakyat.co.id, Malang – Persoalan sampah masih menjadi salah satu tantangan lingkungan terbesar yang dihadapi Indonesia hingga saat ini. Peningkatan jumlah penduduk, perubahan pola konsumsi masyarakat, serta tingginya penggunaan produk sekali pakai menyebabkan volume sampah terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kapasitas tempat pembuangan akhir yang semakin terbatas, tetapi juga memunculkan berbagai persoalan lain seperti pencemaran tanah, air, dan udara yang berpotensi mengancam kualitas hidup masyarakat dalam jangka panjang.

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan bahwa timbulan sampah nasional pada tahun 2023 mencapai sekitar 56,63 juta ton. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 39,01 persen yang berhasil dikelola dengan baik, sementara sebagian besar sisanya masih berakhir di tempat pembuangan terbuka atau tidak tertangani secara optimal. Situasi tersebut menjadi perhatian berbagai pihak karena menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan lagi sekadar masalah kebersihan, melainkan telah berkembang menjadi isu lingkungan yang memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk kalangan perguruan tinggi.

Persoalan ini semakin kompleks ketika dikaitkan dengan tingginya penggunaan plastik sekali pakai yang masih menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat. Indonesia bahkan kerap disebut sebagai salah satu negara penyumbang sampah plastik terbesar di dunia. Plastik yang sulit terurai membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terdegradasi secara alami. Akibatnya, penumpukan sampah plastik tidak hanya mencemari lingkungan daratan, tetapi juga mengancam ekosistem sungai, laut, serta berbagai makhluk hidup yang bergantung pada kelestarian lingkungan tersebut.

Kesadaran akan kondisi tersebut mendorong berbagai institusi pendidikan untuk mengambil peran aktif dalam membangun budaya peduli lingkungan. Perguruan tinggi tidak lagi hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter mahasiswa agar memiliki kepedulian sosial dan lingkungan yang lebih kuat. Salah satu bentuk nyata dari upaya tersebut terlihat di lingkungan Universitas Brawijaya (UB), yang terus mendorong terciptanya budaya kampus berkelanjutan melalui berbagai program dan kebiasaan ramah lingkungan yang diterapkan oleh sivitas akademika.

Kesadaran menjaga lingkungan mulai tumbuh melalui tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai kebiasaan seperti memilah sampah sesuai jenisnya, membawa botol minum isi ulang atau tumbler, mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai, serta memilih produk yang lebih ramah lingkungan menjadi bagian dari langkah nyata yang mulai banyak diterapkan di lingkungan kampus. Meski terlihat sederhana, kebiasaan tersebut memiliki peran penting dalam mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan setiap harinya.

Salah satu mahasiswa yang secara konsisten menerapkan kebiasaan tersebut adalah Azizah Sofia, mahasiswa Program Studi Teknik Kimia angkatan 2025 Universitas Brawijaya. Dalam wawancara yang dilakukan pada 20 April 2026 di Departemen Teknik Kimia UB, Azizah menjelaskan bahwa penggunaan tumbler merupakan langkah sederhana namun efektif untuk membantu mengurangi produksi sampah plastik yang terus meningkat. Menurutnya, perubahan besar terhadap kondisi lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara berulang dan berkelanjutan.

“Pakai tumbler itu cara sederhana saya untuk mengurangi sampah plastik yang menumpuk setiap hari,” ujar Azizah. Bagi Azizah, penggunaan tumbler tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga menawarkan kemudahan dalam aktivitas sehari-hari. Selain dapat digunakan berulang kali, tumbler dinilai lebih praktis dan ekonomis dibandingkan membeli minuman dalam kemasan sekali pakai secara terus-menerus. Kebiasaan tersebut juga secara tidak langsung membentuk pola hidup yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan karena setiap individu menjadi lebih sadar terhadap jumlah sampah yang dihasilkan dari aktivitas konsumsi sehari-hari.

Fenomena penggunaan tumbler yang semakin meningkat di kalangan mahasiswa menunjukkan adanya perubahan pola pikir generasi muda terhadap isu lingkungan. Jika sebelumnya kepedulian terhadap lingkungan sering kali diwujudkan melalui kegiatan seremonial atau kampanye tertentu, kini kesadaran tersebut mulai diterjemahkan ke dalam tindakan nyata yang dilakukan secara rutin. Perubahan perilaku semacam ini menjadi indikator penting bahwa edukasi mengenai lingkungan mulai memberikan dampak terhadap cara pandang mahasiswa dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Komitmen terhadap pelestarian lingkungan juga tercermin melalui berbagai program yang mendukung konsep green campus di Universitas Brawijaya. Berbagai kegiatan seperti penghijauan kawasan kampus, pengelolaan sampah berbasis pemilahan, kampanye pengurangan plastik sekali pakai, hingga edukasi mengenai gaya hidup berkelanjutan terus digalakkan melalui organisasi kemahasiswaan maupun program yang diinisiasi oleh pihak kampus. Kehadiran program-program tersebut tidak hanya bertujuan menciptakan lingkungan kampus yang lebih bersih dan nyaman, tetapi juga membangun kesadaran kolektif bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Lingkungan kampus memiliki posisi strategis dalam membentuk budaya ramah lingkungan karena mahasiswa merupakan kelompok yang berpotensi menjadi agen perubahan di masyarakat. Pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan akademik maupun organisasi dapat menjadi bekal untuk mengembangkan berbagai inovasi dan gerakan sosial yang mendukung pelestarian lingkungan. Oleh karena itu, keberhasilan membangun budaya peduli lingkungan di kampus berpotensi memberikan dampak yang lebih luas hingga ke lingkungan masyarakat.

Meski berbagai upaya telah dilakukan, proses membangun budaya ramah lingkungan bukan tanpa tantangan. Sebagian mahasiswa mengakui bahwa mereka memahami pentingnya mengurangi sampah dan menjaga kebersihan lingkungan, namun penerapannya dalam kehidupan sehari-hari masih sering terkendala oleh faktor kebiasaan. Kemudahan memperoleh produk sekali pakai serta kurangnya konsistensi dalam menjalankan gaya hidup ramah lingkungan menjadi hambatan yang masih sering ditemukan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan perilaku memerlukan proses yang panjang dan berkelanjutan. Kesadaran individu perlu didukung oleh lingkungan sosial yang mampu mendorong terbentuknya kebiasaan positif secara konsisten. Oleh karena itu, edukasi lingkungan tidak cukup hanya dilakukan melalui penyampaian informasi, tetapi juga perlu disertai dengan pembiasaan, keteladanan, serta dukungan fasilitas yang memudahkan masyarakat untuk menerapkan perilaku ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Upaya menjaga lingkungan juga memiliki keterkaitan erat dengan nilai-nilai keagamaan. Dalam perspektif Islam, manusia memiliki tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi yang berkewajiban menjaga keseimbangan dan kelestarian alam. Ajaran Islam juga menekankan pentingnya menghindari perilaku israf atau berlebihan dalam menggunakan sumber daya. Nilai-nilai tersebut memberikan landasan moral bahwa menjaga lingkungan bukan hanya bentuk kepedulian sosial, tetapi juga bagian dari tanggung jawab spiritual yang harus dijalankan oleh setiap individu.

Pendekatan berbasis nilai agama dinilai mampu memperkuat motivasi mahasiswa dalam menerapkan gaya hidup yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Ketika kesadaran lingkungan tidak hanya didasarkan pada aturan atau tren sosial semata, melainkan juga dipahami sebagai bagian dari nilai keimanan, maka perilaku positif tersebut berpotensi bertahan lebih lama dan dilakukan secara konsisten. Kesadaran inilah yang menjadi fondasi penting dalam membangun budaya lingkungan yang berkelanjutan.

Berbagai langkah yang dilakukan mahasiswa Universitas Brawijaya menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai melalui tindakan besar yang membutuhkan sumber daya yang kompleks. Perubahan dapat berawal dari kebiasaan sederhana seperti membawa tumbler, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta membiasakan diri memilah sampah sebelum dibuang. Langkah-langkah kecil tersebut mungkin terlihat sederhana, namun apabila dilakukan secara kolektif dan berkelanjutan oleh banyak orang, dampaknya dapat menjadi kontribusi nyata dalam mengurangi permasalahan sampah yang masih menjadi tantangan besar bagi Indonesia.

Melalui tumbuhnya kesadaran individu, dukungan lingkungan kampus, serta penguatan nilai-nilai sosial dan spiritual, mahasiswa Universitas Brawijaya memperlihatkan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam mendorong perubahan menuju masa depan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. Apa yang dilakukan hari ini melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana dapat menjadi investasi lingkungan yang memberikan manfaat bagi generasi mendatang.

Berita ini ditulis oleh :
Rifa Tri Violita¹, Viratha Audriya Sulistyo Putri², Nesia Halimah Wibowo³, Bening Feby Widanti⁴, Nisrina Najiyah Ayuadani⁵