SimpulRakyat.co.id, Opini – Setiap kali Cristiano Ronaldo menerima bola di area tengah dengan satu atau dua pemain bertahan menghadangnya, ada satu refleks yang masih sulit saya hilangkan: berharap sesuatu yang luar biasa akan terjadi.

Selama hampir dua dekade, Ronaldo membiasakan publik menyaksikan aksi yang terasa mustahil. Ia berlari melewati lawan, mengecoh bek dengan gerakan sederhana, lalu melepaskan tembakan keras yang berakhir di sudut gawang. Atau melayang menyambut umpan silang, seolah gravitasi tidak berlaku baginya.

Era itu memang telah berlalu.

Ronaldo yang kini berusia 41 tahun tentu berbeda dengan Ronaldo lima atau sepuluh tahun lalu. Ia tidak lagi mengandalkan kecepatan eksplosif atau lompatan spektakuler di setiap pertandingan. Namun, perubahan itu tidak serta-merta membuatnya kehilangan nilai sebagai seorang penyerang.

Justru di sinilah banyak orang keliru menilai.

Banyak kritik terhadap Ronaldo masih menggunakan standar Ronaldo muda, bukan Ronaldo yang telah berevolusi menjadi penyerang murni dengan pengalaman, insting, dan penyelesaian akhir yang tetap tajam.

Kesalahan serupa pernah dilakukan Fernando Santos pada Piala Dunia 2022. Di tengah derasnya kritik publik, ia memilih mencadangkan sang kapten. Portugal akhirnya tersingkir setelah kalah dari Maroko, sementara keputusan tersebut terus menjadi bahan perdebatan hingga kini.

Ronaldo kemudian memberikan jawabannya di lapangan. Ia membantu Portugal lolos ke Euro 2024 dengan torehan sepuluh gol, kembali menjadi salah satu pemain penting saat negaranya mengamankan tiket ke Piala Dunia, serta terus menunjukkan produktivitas tinggi di level klub.

Namun, setiap kali Ronaldo gagal mencetak gol dalam satu pertandingan, kritik yang sama kembali bermunculan.

Statistik dijadikan senjata untuk menyimpulkan bahwa ia telah habis. Analisis mengenai pergerakan, pressing, hingga kontribusinya tanpa bola kembali memenuhi ruang diskusi. Seolah satu pertandingan tanpa gol cukup untuk menghapus pencapaian selama puluhan tahun.

Ironisnya, hampir tidak ada pemain lain yang menghadapi standar penilaian setinggi itu.

Ketika Ronaldo mencetak gol, hal itu dianggap sebagai sesuatu yang memang seharusnya terjadi. Ketika ia gagal mencetak gol, berbagai teori mengenai penurunan performanya segera bermunculan.

Tekanan semacam itu nyaris tidak pernah dialami pemain lain.

Beruntung, Roberto Martínez memilih untuk tidak terpengaruh oleh kebisingan di luar lapangan. Ia tetap memberikan kepercayaan kepada kaptennya.

Kepercayaan itu kemudian dibayar Ronaldo melalui penampilan yang kembali membungkam para pengkritiknya.

Perdebatan mengenai siapa pemain terbaik sepanjang masa mungkin tidak akan pernah selesai. Bagi sebagian orang, Lionel Messi adalah puncak sejarah sepak bola setelah keberhasilannya membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 2022. Bagi yang lain, Cristiano Ronaldo tetap menjadi simbol dedikasi, konsistensi, dan umur panjang yang belum pernah disamai.

Mungkin tidak semua orang akan sepakat mengenai siapa yang layak disebut GOAT.

Namun, ada satu hal yang sulit dibantah: dunia sepak bola beruntung pernah hidup di era yang sama dengan dua pemain luar biasa, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Perdebatan boleh terus berlangsung. Tetapi, yang jauh lebih berharga adalah kesempatan menyaksikan langsung dua legenda tersebut menulis sejarah selama lebih dari dua dekade.