SimpulRakyat.co.id, Luwu — Semangat pengabdian, kepedulian sosial, dan pendidikan kembali ditunjukkan oleh kader muda Tapak Suci sekaligus Guru Olahraga MTsN 1 Luwu melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan Kemah Relawan Pendidikan (KeRen) Volume 20 yang berlangsung selama 14–16 Mei 2026 di wilayah pegunungan terpencil, tepatnya di Desa Kanna dan Desa Buntu Batu, Kecamatan Basse Sangtempe, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.

Kegiatan yang mengusung semangat berbagi pendidikan bagi anak-anak pelosok ini diikuti oleh 31 relawan dari berbagai latar belakang profesi dan komunitas sosial. Rombongan berangkat bersama dari titik temu di Belopa menuju kawasan Bastem dengan waktu tempuh sekitar enam jam perjalanan menuju lokasi pertama.

Dalam perjalanan pengabdian ini, turut bergabung kader Perguruan Tapak Suci sekaligus pelatih, Ibu Salmawati, S.Pd, Rezky ridwan dan Zidanne paradiba ashar yang juga mengambil bagian sebagai relawan pendidikan dan kemanusiaan. Kehadiran kader Tapak Suci menjadi representasi nyata bahwa pembinaan karakter seorang pesilat tidak hanya diwujudkan melalui latihan fisik dan disiplin organisasi, tetapi juga melalui aksi nyata dalam melayani masyarakat dan menebar kebermanfaatan.

Kegiatan hari pertama diawali dengan agenda Hello Relawan, penguatan koordinasi dan rapat strategi pembelajaran, serta kunjungan kepada siswa berkebutuhan khusus sebagai bentuk kepedulian terhadap pendidikan inklusif di daerah pelosok.

Memasuki hari kedua, sejak pukul 07.30 pagi, relawan melaksanakan program “Anak Belajar Ceria”, sebuah kegiatan pembelajaran yang menghadirkan suasana edukatif sekaligus menyenangkan bagi anak-anak di kaki pegunungan Bastem. Materi yang diberikan meliputi keislaman, Bahasa Inggris, numerasi, literasi digital, wawasan global, kelas sains, perbaikan makhraj dan tajwid, kegiatan mewarnai Asmaul Husna, mewarnai kipas, hingga permainan edukatif yang membangun rasa percaya diri anak-anak.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, kader Tapak Suci juga turut memperkenalkan dasar-dasar jurus pencak silat Tapak Suci kepada anak-anak sebagai bagian dari penguatan karakter, disiplin, keberanian, dan pendidikan nilai-nilai positif melalui seni bela diri. Dengan penuh semangat, anak-anak mengikuti pengenalan gerakan dasar yang tidak hanya melatih fisik, tetapi juga menanamkan rasa percaya diri serta keberanian untuk terus belajar.

Kegiatan semakin bermakna melalui pembagian “Kebahagiaan dari Donatur”, berupa Al-Qur’an, Iqro, buku tulis, pulpen, susu kotak, makanan ringan, kipas, paket sikat dan pasta gigi, serta berbagai hadiah doorprize lainnya yang disambut penuh kebahagiaan oleh anak-anak pelosok.

Tak berhenti di sana, relawan juga melakukan kunjungan kepada seorang siswa penyandang tuna daksa yang tinggal bersama tantenya yang tuli dan bisu. Di tengah keterbatasan yang dimiliki, siswa tersebut menunjukkan semangat luar biasa dalam menghafal Al-Qur’an. Pertemuan tersebut menjadi refleksi mendalam bagi para relawan bahwa semangat belajar tidak pernah mengenal batas keadaan.

Pada sore harinya, tim relawan melanjutkan perjalanan menuju lokasi kedua dengan menaiki kawasan puncak Ne’Rura, untuk melaksanakan agenda berikutnya sekaligus menyerahkan KeRen Award kepada tiga relawan berdedikasi yang telah membersamai perjalanan KeRen sejak tahun 2020 hingga kini. Selama enam tahun perjalanan, KeRen telah melaksanakan 20 kali pengabdian pendidikan di berbagai wilayah pelosok bersama relawan dari berbagai daerah di Indonesia bahkan relawan yang berasal dari dunia internasional.

Pelatih Tapak Suci yang turut menjadi relawan, Salmawati, menyampaikan bahwa keterlibatan kader dalam kegiatan seperti ini menjadi ruang pembelajaran yang sangat penting bagi generasi muda untuk memahami makna kebermanfaatan di tengah masyarakat.

“Bagi kami, menjadi kader berarti siap belajar, mengabdi, dan hadir memberi manfaat. KeRen memberi pengalaman berharga yang tidak akan kami lupakan. Anak-anak di pelosok tidak hanya membutuhkan bantuan, tetapi juga kehadiran, perhatian, dan semangat bahwa mereka tidak sendiri dalam meraih mimpi,” ungkap Ibu Salmawati, S.Pd.

Keikutsertaan kader Tapak Suci dalam KeRen Volume 20 menjadi cerminan bahwa nilai seorang pesilat tidak hanya terletak pada kemampuan bela diri, tetapi juga pada kesediaan untuk hadir di tengah masyarakat, membantu sesama, serta menjadi bagian dari solusi atas keterbatasan akses pendidikan di pelosok negeri.

Sebagaimana semangat besar Kemah Relawan Pendidikan (KeRen), kegiatan ini bertujuan untuk mengajak generasi muda berlomba memaksimalkan masa muda, tenaga, ilmu, serta segala bentuk kebaikan untuk menjadi penyemangat bagi anak-anak di wilayah terpencil agar dapat merasakan kebahagiaan Al-Qur’an, kehangatan pendidikan, dan pengalaman belajar yang membekas dalam hati mereka.

Bagi relawan KeRen, anak-anak di pelosok bukan sekadar penerima manfaat, melainkan “Sahabat Kaki Langit” — anak-anak yang menyimpan mimpi besar di tempat-tempat yang jauh dari akses dan perhatian, namun tetap memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan dan kasih sayang.

Sebagaimana disampaikan oleh inisiator Kemah Relawan Pendidikan KeRen, Mazra Yasir, semangat berbagi pendidikan bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang bertumbuh bersama dalam perjalanan kemanusiaan.

“Memberi pendidikan tak hanya tentang diri kita yang memberi, tetapi tentang diri kita yang diberi. Diberi kelapangan jiwa, diberi inspirasi, dan diberi kesempatan untuk melihat betapa besar harapan tumbuh dari tempat-tempat yang sering luput dari perhatian,” ujarnya.

KeRen percaya bahwa pendidikan adalah hak setiap anak, dan siapa pun memiliki tanggung jawab untuk ikut berkontribusi nyata.