SimpulRakyat.co.id, Luwu – Aksi blokade jalan yang dilakukan massa pendukung Daerah Otonomi Baru (DOB) Provinsi Luwu Raya masih berlangsung hingga hari kelima, Senin (26/1/2026).
Akibat aksi tersebut, ratusan kendaraan berat, terutama truk logistik dan angkutan barang, masih tertahan di sejumlah titik di wilayah Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.
Blokade jalan mulai dilakukan sejak Kamis (22/1/2026) dan hingga kini belum sepenuhnya dibuka.
Pantauan di lapangan menunjukkan, massa aksi menutup akses jalan di berbagai titik strategis sepanjang jalur Trans Sulawesi, yang merupakan jalur utama mobilitas barang dan orang.
Penutupan jalan dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari pengecoran beton di badan jalan, menumbangkan pohon, menumpuk bebatuan, hingga memalang jembatan agar kendaraan tidak dapat melintas.
Adapun titik-titik blokade berada di perbatasan Wajo-Luwu, Sampoddo, Wara, Jembatan Miring, Baliase, perbatasan Kabupaten Luwu Utara-Luwu Timur, serta sejumlah titik lain yang menjadi jalur vital distribusi logistik.
Akibat penutupan ini, antrean kendaraan mengular panjang. Ratusan truk dilaporkan terparkir berjam-jam bahkan berhari-hari tanpa kepastian kapan dapat melanjutkan perjalanan.
“Kalau mobil empat roda masih bisa melalui jalan tikus, tapi yang tertahan ini mobil besar. Kalau pun lewat jalan tikus, waktu tempuh jadi jauh lebih lama,” ujar Aso, seorang pengendara yang terjebak di lokasi, Senin (26/1/2026).
Blokade jalan tersebut turut berdampak pada distribusi logistik dan kebutuhan masyarakat. Dampak signifikan juga dirasakan pada ketersediaan dan harga bahan bakar minyak (BBM).
Di sejumlah wilayah, harga bensin dilaporkan melonjak hingga Rp 50.000 per liter akibat terganggunya pasokan.
Meski demikian, solidaritas warga setempat terlihat membantu para pengendara yang terjebak. Warga di sekitar titik blokade membagikan makanan dan minuman kepada sopir truk serta pengguna jalan lainnya.
Selain itu, kendaraan prioritas seperti ambulans, mobil pemadam kebakaran, serta truk pengangkut BBM dan gas masih diperbolehkan melintas melalui jalur khusus yang dijaga oleh massa aksi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi terkait kapan seluruh blokade akan dibuka. Namun di beberapa titik, massa melakukan sistem buka-tutup jalan secara situasional, menyesuaikan kondisi di lapangan dan hasil koordinasi internal aksi.
Aksi blokade ini merupakan bagian dari tekanan massa untuk menuntut percepatan pembentukan Kabupaten Luwu Tengah dan Provinsi Luwu Raya, yang disebut sebagai perjuangan historis masyarakat Luwu Raya.


Tinggalkan Balasan