SimpulRakyat.co.id, Luwu – Mulai dari Ketua DPRD hingga seluruh anggota fraksi solid menegaskan komitmen sebagai putra-putri Tana Luwu untuk berusaha mandiri, sekaligus mengingatkan akan janji yang harus dibayar lunas oleh NKRI.

Tana Luwu atau Luwu bukan hanya sekadar nama kerajaan tertua di Sulawesi Selatan. Lebih dari itu, merupakan kerajaan pertama di Pulau Sulawesi dan yang kedua bergabung dengan Indonesia. Komitmen terhadap negara yang umurnya lebih muda dari istilah “seumur jagung” tersebut diperjuangkan hingga bertaruh darah dan nyawa.

Hari Perlawanan Rakyat Luwu yang jatuh pada 23 Januari menjadi bukti nyata komitmen rakyat Tana Luwu terhadap Indonesia. Perlawanan massal terhadap penjajah NICA tersebut tak boleh dipandang sebelah mata.

“Dari dua peristiwa tersebut, tak perlu lagi meragukan komitmen Putra-Putri Tana Luwu. Komitmen bergabung dengan Indonesia yang disampaikan oleh Datu kami Andi Djemma kepada Sukarno dan perlawanan terhadap penjajah menunjukkan sikap bahwa Indonesia dan melawan penjajah adalah sebuah Harga Diri/ Siri’ na Pacce,” ujar Anggota DPRD Luwu, Andi Muhammad Arfan Basmin di Luwu, Rabu (21/01/2026).

Pihaknya menegaskan bahwa 23 Januari jangan hanya dijadikan momentum peringatan semata, melainkan sebagai ruang bagi setiap Wija to Luwu untuk memperlihatkan jati diri dan harga dirinya.

“Jika Andi Djemma telah memperlihatkan semangat komitmen kepada Indonesia, kita harus mewariskan semangat dan kebanggan sebagai Wija to Luwu,” tambahnya.

Pembentukan Daerah Otonom Baru (DOB) Luwu Tengah dan pemekaran Provinsi Luwu Raya disebut sebagai perjuangan yang terus disuarakan setiap tahun.

“Jangan pernah terlewatkan menjadi sebuah cerita. Tapi menjadi sebuah pondasi dan pemantik semangat yang akan senantiasa membawa setiap waktu. Jadikan setiap peristiwa perjuangan kita adalah wujud harga diri sebagai wija to Luwu. Ibarat badik yang telah ditarik dari sarungnya, pantang kembali ke dalam sarungnya jika tujuan tak tercapai,” tandasnya.