SimpulRakyat.co.id, Makassar – Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, secara resmi membuka Workshop on Managing Child Health for Healthcare Workforce yang diselenggarakan oleh Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan melalui Poltekkes Makassar. Kegiatan yang berlangsung di The Rinra Hotel pada Selasa (20/1) hingga Kamis (22/1). Makassar.

Sejumlah delegasi dari Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam hadir secara langsung. Sementara itu, perwakilan dari Meksiko, Jepang, dan China Taipei mengikuti kegiatan secara daring.

Munafri menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Kota Makassar sebagai tuan rumah.

“Dengan sekitar 1,4 juta penduduk yang tersebar di 15 kecamatan dan 153 kelurahan, tantangan di sektor kesehatan cukup besar. Karena itu, kami sangat senang APEC dan Poltekkes membawa forum penting ini ke Makassar,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pembangunan daerah harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, terutama kesehatan anak sebagai generasi masa depan.

Saat ini, Makassar memiliki 47 puskesmas, 35 puskesmas pembantu, 214 klinik, satu rumah sakit umum daerah, serta 52 rumah sakit umum lainnya.

Angka kematian ibu dan bayi masih menjadi tantangan serius. Data menunjukkan, pada tahun 2024 terdapat 19 kasus kematian ibu dan 198 kematian bayi, yang menurun menjadi 13 kasus kematian ibu dan 185 kematian bayi pada tahun 2025.

“Angka ini menunjukkan masih adanya persoalan dalam akses, kualitas, dan keterjangkauan layanan kesehatan,” jelas Munafri.

Dirinya berharap workshop ini dapat menghasilkan rekomendasi konkret yang bisa diterapkan di Makassar untuk memperkuat jejaring kerja sama lintas negara.

Sementara itu, Direktur Poltekkes Makassar, Rusli, menyatakan bahwa lokakarya ini menjadi wadah penting untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan mulai dari dokter, perawat, bidan, hingga pembuat kebijakan.

“Melalui pertukaran praktik terbaik, diskusi mendalam, dan pemanfaatan teknologi, kami berharap lokakarya ini mampu menghasilkan rekomendasi yang aplikatif untuk memperkuat sistem kesehatan primer masing-masing negara,” ujarnya. (*)