SimpulRakyat.co.id, Pangkep – Tiga forum wilayah lingkar PT Semen Tonasa, yakni Kelurahan Samalewa, Desa Tabo-Tabo, dan Desa Bulu Tellue, menggelar pelatihan pengembangan kelompok Usaha Mikro Kecil (UMK) berbasis Analisis Bisnis Model Canvas (BMC).

Kegiatan yang diikuti puluhan peserta dari tiga wilayah tersebut, berlangsung di Gedung Diklat PT Semen Tonasa, Kabupaten Pangkep, Rabu (10/12/2025).

Ketua Koordinator Pendamping TJSL PT Semen Tonasa, Ahyar, menekankan pentingnya pemanfaatan optimal alat dan bahan yang diberikan kepada peserta.

“Terkait bahan dan alat yang diberikan, apabila tidak digunakan, maka yang mendukung alat-alat ini harus siap memberikannya kepada kelompok lain, untuk teman-teman lain yang mungkin mau berusaha tetapi karena keterbatasan alat dan bahan, kemudian mereka tidak bisa berusaha,” ujar Ahyar.

Dia menambahkan, program ini memiliki potensi berkelanjutan. “Kalau program ini berlanjut, tidak menutup kemungkinan di tahun-tahun ke depan akan ada penambahan program yang sama,” katanya.

Sementara itu, Plt SM of TJSL PT Semen Tonasa, Abbas, menegaskan bahwa bantuan program harus tepat sasaran, diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.

“Saya berharap ibu-ibu yang hadir pada pelatihan hari ini adalah orang-orang yang betul-betul membutuhkan, bukan karena keinginan. Kalau dia ingin, dia lihat orang mendapatkan mixer, dia juga mau,” kata Abbas saat membuka pelatihan ini.

Abbas mencontohkan, masih banyak alat bantuan yang tersimpan dan tidak digunakan.

“Ada beberapa yang kita temukan, alatnya itu dua tahun didapat masih dalam rumah terbungkus plastik, ternyata dia tidak butuh, sedangkan masih ada orang lain yang butuh. Jika ada yang seperti itu, sebaiknya dipindahkan ke kelompok lain supaya bisa bermanfaat,” ujarnya.

Menurut Abbas, program ini termasuk fokus program pemberdayaan masyarakat bagi warga ring 1 PT Semen Tonasa, yang mencakup tiga bidang utama: peningkatan kualitas pendidikan, lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi.

“Tidak semua warga Pangkep bisa mendapatkan ini, hanya 12 desa/kelurahan yang mendapat anggaran khusus, jadi dimaksimalkan sebaik-baiknya,” tambahnya.

Muh Syahreza Rifti membawakan materi Bisnis Model Canvas. (Foto: Ahmad/Simpul Rakyat)

Pelatihan inti disampaikan Trainer Certified Digital Marketing Practitioner BNSP, Muh Syahreza Rifti. Ia memaparkan bahwa BMC adalah alat sederhana namun efektif untuk merumuskan model bisnis secara visual.

“Bisnis Model Canvas adalah kerangka kerja yang menyajikan model bisnis dalam bentuk visual seperti kanvas lukisan, agar lebih mudah dipahami,” kata Syahreza.

Dia menjelaskan sembilan elemen BMC, mulai dari segmen pasar hingga struktur biaya, agar pelaku usaha dapat melihat gambaran utuh bisnis mereka. Peserta juga diperkenalkan pada Digital Marketing Canvas (DMC), metode yang banyak digunakan untuk menyusun strategi pemasaran digital.

“DMC memungkinkan digital marketer melakukan brainstorming dan berkolaborasi dalam merancang rencana pemasaran digital. Alat ini dapat digunakan untuk mempresentasikan rencana pemasaran kepada tim, pelanggan, dan para pemangku kepentingan,” ujarnya.

Suasana peserta mengikuti pelatihan pengembangan Usaha Mikro Kecil (UMK) berbasis Bisnis Model Canvas dan Digital Marketing di Gedung Diklat PT Semen Tonasa. (Foto: Ahmad/Simpul Rakyat)

Sementara Materi tentang sistem perencanaan, realisasi, dan monitoring evaluasi (Monev) program pemberdayaan masyarakat disampaikan Comdev Specialist, Founder Bina Lingkungan Indonesia Bingkai, Ruslan Ali, bersama Ahyar.

Ahyar menekankan pendekatan pemberdayaan kelompok UMK melalui pengembangan SDM, usaha, dan manajemen kelembagaan.

“Pengembangan SDM kelompok berupa penyadaran kritis, pelatihan, studi banding, perilaku wirausaha sosial agar mampu mengelola usaha bersama, dan keterampilan khusus dalam usaha,” kata Ahyar.

“Pengembangan usaha dilakukan melalui pengaturan ekonomi rumah tangga, menabung bersama dalam kelompok, serta kegiatan usaha produktif berkelanjutan sesuai norma dan mekanisme kelompok. Manajemen kelembagaan mencakup pengelolaan organisasi yang akuntabel, kepemimpinan partisipatif, pengelolaan keuangan transparan, dan jejaring usaha yang lebih luas,” tambahnya.

Ruslan Ali menambahkan, program ini memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Outcome atau perubahan yang bermanfaat antara lain lapangan kerja baru, kenaikan pendapatan, dan peningkatan stabilitas hidup. Sedangkan impact-nya berupa penurunan kemiskinan, menyempitnya kesenjangan sosial, dan berkurangnya kriminalitas,” ujar Ruslan.

Ia juga menekankan pentingnya pengukuran manfaat sosial melalui Social Return on Investment (SROI).

“Manfaat investasi yang paling hakiki adalah yang diterima oleh pihak-pihak di lingkar pelaku investasi,” pungkasnya.

Pelatihan ini diharapkan mendorong kelompok UMK di wilayah lingkar PT Semen Tonasa menjadi lebih produktif, mandiri, dan mampu mengelola usaha secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat lokal.