SimpulRakyat.co.id, Luwu – Malam yang biasanya gaduh di kawasan Ulo-Ulo, Kecamatan Belopa, Kabupaten Luwu, mendadak kehilangan denyut nadinya. Senin malam (29/12), gemerlap lampu kelap-kelip dan dentuman musik yang kerap mengoyak kesunyian kampung seakan ditelan gelap, ketika operasi gabungan TNI–Polri dan Satpol PP menyergap tempat hiburan malam (THM) yang selama ini dikenal tak pernah benar-benar tidur.
Tak ada tawa pecah, tak ada denting botol beradu. Meja-meja tampak rapi, seolah baru saja disucikan dari hiruk-pikuk dosa malam. Hanya minuman non-alkohol yang tersaji, seakan tempat itu sedang berusaha tampil suci di hadapan negara. Namun kebohongan kecil itu tak mampu menipu fakta: di sudut-sudut sunyi, tempat sampah di sekitar bangunan justru penuh sesak dengan botol bekas minuman beralkohol—jejak pesta yang baru saja dipadamkan.

Operasi gabungan ini diawali dengan apel yang dipimpin langsung Kapolres Luwu, AKBP Adnan Pandibu, sebagai tanda dimulainya langkah tegas aparat dalam menertibkan aktivitas malam yang selama ini kerap menuai sorotan. Hingga larut, petugas menyisir lokasi demi lokasi, memastikan tak ada celah bagi pelanggaran bersembunyi di balik temaram.
Apel penutupan operasi dipimpin Wakapolres Luwu, Kompol Misbah, yang menegaskan pesan kuat dari kehadiran aparat negara.
“Kita mengirim pesan bahwa kolaborasi TNI–Polri dan Pemerintah Daerah itu ada. Alhamdulillah tidak ada kendala yang berarti. Kami berharap dari sisi perizinan ada tindak lanjut terkait izin-izin yang ada,” ujar Kompol Misbah.
Sementara itu, warga sekitar hanya bisa saling pandang, merasakan suasana yang tak biasa. Seorang warga Ulo-Ulo yang enggan disebutkan namanya menggambarkan perbedaan malam itu dengan hari-hari sebelumnya.
“Biasanya kalau malam, suara musik keras sekali, motor lalu-lalang, orang ribut sampai subuh. Tapi malam ini sunyi sekali, seperti kampung mati. Baru kali ini kami dengar Ulo-Ulo setenang ini,” ucapnya.
Warga lain bahkan menyebut keheningan malam penggerebekan terasa seperti jeda panjang setelah bertahun-tahun kebisingan.

“Kalau begini terus, mungkin warga bisa tidur nyenyak. Biasanya ini tempat tidak pernah benar-benar diam,” katanya lirih.
Malam ini, Ulo-Ulo seakan dipaksa bercermin. Di bawah sorot senter aparat dan sunyi yang tak biasa, tempat hiburan malam itu berdiri kaku—tak lagi bising, tak lagi berani. Tinggal menunggu, apakah keheningan ini hanya jeda sesaat, atau awal dari perubahan yang benar-benar ditegakkan


Tinggalkan Balasan