SimpulRakyat.co.id, Pangkep – Enam Forum Desa/Lurah Ring 1 PT Semen Tonasa, yaitu Kelurahan Sapanang, Desa Tabo-Tabo, Mangilu, Taraweang, Bowong Cindea, dan Bulu Tellue, menggelar pelatihan bersama bertema Strategi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan Solusi Organik dan Ramah Lingkungan.

Kegiatan pelatihan ini diikuti oleh kelompok tani penerima manfaat program TJSL PT Semen Tonasa, berlangsung di gedung SLB YPPLB Pangkep, Kampung Salebbo, Kelurahan Sapanang, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, Selasa (9/12/2025).

Perwakilan manajemen TJSL PT Semen Tonasa, H Akmal, berharap para peserta dapat memanfaatkan pelatihan tersebut untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka di bidang pertanian.

“Harapannya pelatihan ini dapat meningkatkan kapasitas petani, serta bantuan alat pertanian yang diberikan oleh Forum TJSL dimanfaatkan dan dirawat dengan baik,” ungkap Akmal saat menghadiri pembukaan pelatihan ini.

Senada dengan itu, Sekretaris Lurah Sapanang, Nuraeni Adam, menekankan bahwa seluruh bantuan alat pertanian harus dikelola secara kolektif.

“Bantuan alat pertanian yang diberikan dipergunakan secara berkelompok, dan tidak dimiliki secara pribadi,” tegasnya saat membuka acara.

Koordinator penyuluh pertanian Kecamatan Bungoro, Fachira. (Foto: Ahmad/Simpul Rakyat)

Materi pertama dibawakan koordinator penyuluh pertanian Kecamatan Bungoro, Fachira.

Ia memaparkan ciri-ciri hama yang paling sering menyerang tanaman pangan dan hortikultura.

“Gejala kerusakan pada tumbuhan vegetatif disebut sundep. Biasanya pucuk tanaman berwarna kuning, layu, kemudian kering. Bila ditarik mudah lepas karena ulat telah merusak pangkal tanaman,” jelasnya.

Untuk fase generatif, Fachira menyebut gejala beluk sebagai serangan yang paling umum.

“Malainya tegak, berwarna putih dan hampa. Gejala ini mudah dikenali dan beda dengan serangan hama lainnya,” tambahnya.

Praktisi pertanian Sjamsuddin Moedji. (Foto: Ahmad/Simpul Rakyat)

Pemateri kedua, praktisi pertanian Sjamsuddin Moedji, membawa suasana lebih interaktif dengan praktik pembuatan pupuk organik.

“Pertanian organik adalah sistem budidaya tanpa bahan kimia sintetis, dan mengutamakan kesehatan ekosistem serta keberlanjutan,” kata Sjamsuddin.

Dia kemudian membandingkan dengan pola non-organik.

“Pertanian non-organik menggunakan pupuk dan pestisida kimia untuk mendapatkan hasil cepat,” ujarnya.

Menurutnya, pupuk organik terbagi dalam tiga kelompok besar, yaitu padat, cair (POC), dan hayati.

Dalam sesi praktik, peserta bahkan diajak membuat pupuk organik dari bahan sederhana seperti telur, petsin, dan terasi.

Materi terakhir dibawakan Founder Lembaga Bingkai, Ruslan Ali, didampingi Koordinator Pendamping TJSL PT Semen Tonasa, Ahyar. Mereka fokus pada sistem perencanaan, realisasi, hingga monitoring dan evaluasi program pemberdayaan masyarakat.

“Proses pemberdayaan masyarakat secara partisipatoris mencakup persiapan sosial, pengembangan dan pelaksanaan program bersama, serta perluasan kegiatan berbasis masyarakat,” jelas Ruslan.

Sekadar diketahui, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan serah terima program budidaya cabai organik yang merupakan bagian dari Rencana Kerja (Renja) TJSL PT Semen Tonasa tahun 2025 melalui Forum Massapanae, Kelurahan Sapanang.

Pelatihan bersama enam forum desa dan kelurahan ini diharapkan dapat menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas petani, sekaligus memperluas praktik pertanian ramah lingkungan di wilayah Ring 1 perusahaan.