SimpulRakyat.co.id, Pangkep – Sekretaris Dinas Perpustakaan Kota Makassar, Andi Mappanyukki, melakukan kunjungan kerja ke Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Selasa (30/12/2025).

Kunjungan ini bertujuan memperkuat sinergi antarwilayah dalam pengembangan program literasi berbasis inklusi sosial.

Andi Mappanyukki hadir bersama pustakawan Andi Jalil dan disambut langsung oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Pangkep, Muhiddin R.

Pertemuan tersebut menjadi ruang diskusi untuk membahas langkah-langkah konkret penguatan peran perpustakaan sebagai pusat pembelajaran masyarakat yang inklusif.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Pangkep, Muhiddin R menerima kunjungan Dinas Perpustakaan Makassar. (Foto: Agus/Simpul Rakyat)

Dalam pertemuan itu, ketiga pihak menekankan pentingnya menjadikan perpustakaan sebagai ruang yang ramah dan terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok rentan dan terpinggirkan.

Literasi tidak hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga sebagai sarana meningkatkan daya pikir kritis dan kapasitas sosial masyarakat.

“Kami bertujuan membangun kesefahaman, berbagi pengalaman, serta saling menguatkan dan mendukung dalam penjabaran program-program literasi dan perpustakaan di daerah masing-masing,” ujar Muhiddin R saat menerima kunjungan tersebut.

Ia menyebutkan, tantangan literasi di daerah membutuhkan kolaborasi lintas wilayah agar inovasi program yang sudah berjalan dapat direplikasi dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Sementara itu, Andi Mappanyukki menegaskan bahwa kunjungan kerja ini tidak sekadar bersifat seremonial, melainkan menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring kerja antar-dinas perpustakaan.

“Kunjungan ini bukan hanya silaturahmi, tetapi juga sarana berbagi pengalaman yang telah dilaksanakan di Kota Makassar, khususnya dalam pengembangan program literasi berbasis inklusi sosial,” kata Andi Mappanyukki.

Menurut dia, konsep literasi inklusif harus mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

“Literasi berbasis inklusi sosial harus menjangkau semua, mulai dari anak-anak hingga lansia, termasuk masyarakat di wilayah terpencil. Perpustakaan harus menjadi titik temu yang memberi kesempatan yang sama bagi semua orang untuk mengakses pengetahuan,” tandasnya.

Sejumlah sumber yang terlibat dalam pertemuan tersebut menyebutkan, inisiatif ini sejalan dengan tugas pokok dan fungsi kedua dinas yang sama-sama berfokus pada pengembangan literasi masyarakat serta transformasi perpustakaan menjadi lebih inklusif dan adaptif.

Meski belum menghasilkan kesepakatan teknis yang bersifat spesifik, kedua pihak sepakat untuk terus menjalin koordinasi dan komunikasi intensif guna mendorong terwujudnya perpustakaan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat di daerah masing-masing.