SimpulRakyat.co.id, Luwu – Operasional Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Larompong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, menuai sorotan. Sejak diresmikan pada pertengahan Oktober 2025, dapur yang dikelola melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) itu diduga kerap tidak menjalankan menu sesuai rekomendasi ahli gizi.
Informasi tersebut disampaikan oleh sumber yang mengetahui langsung pelaksanaan program MBG di lapangan. Ia meminta identitasnya dirahasiakan.
“Menu yang sudah ditentukan oleh ahli gizi sering diganti. Ini terjadi berulang sejak dapur mulai beroperasi,” kata sumber tersebut kepada Simpul Rakyat, Sabtu (13/12/2025) lalu.
Menurut dia, persoalan tidak hanya terjadi di satu lokasi. Dari delapan dapur MBG yang ada di wilayah Luwu, hampir semuanya disebut menghadapi kendala, baik teknis maupun dalam pengelolaan.
Salah satu dapur yang kerap mengalami permasalahan adalah SPPG Luwu Larompong Komba. Dugaan intervensi pengelolaan disebut berasal dari pihak fasilitator dapur.
“Fasilitator dapur, Asni, sering ikut campur dalam penentuan menu MBG, bahkan sampai ke pemesanan bahan dan barang yang tidak sesuai dengan daftar dari ahli gizi,” ujarnya.
Selain soal menu, kondisi bangunan dapur juga menjadi perhatian. Sumber tersebut menyebut, bagian tembok belakang dapur MBG Larompong Komba dinilai tidak layak dan telah beberapa kali diminta untuk dibenahi.
“Sudah sering ditegur agar tembok bagian belakang dapur diperbaiki, tapi tidak pernah ditindaklanjuti,” kata dia.
Berdasarkan data yang dihimpun, Asni tercatat memfasilitasi tiga unit dapur MBG di Kabupaten Luwu. Dapur pertama berada di Larompong Komba dengan jumlah penerima manfaat sebanyak 3.083 orang.
Dua dapur lainnya yakni SPPG Suli Murante dengan jumlah penerima manfaat 2.382 orang, namun hingga kini belum beroperasi. Sementara satu dapur MBG lainnya berada di Belopa Utara, yakni SPPG Luwu Belopa Utara Sabe, dengan jumlah penerima manfaat sebanyak 2.454 orang.
Program Makan Bergizi Gratis merupakan program strategis pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok rentan. Karena itu, keterlibatan ahli gizi dalam penyusunan menu menjadi elemen penting guna memastikan kecukupan gizi dan keamanan pangan.
Hingga berita ini diturunkan, Simpul Rakyat belum memperoleh keterangan resmi dari pihak fasilitator dapur maupun instansi terkait untuk menanggapi informasi tersebut.


Tinggalkan Balasan