SimpulRakyat.co.id, Cerpen – Pagi itu, matahari belum sepenuhnya naik ketika Andi Tenri membuka jendela kantornya di lantai dua Gedung DPRD Bone.
Udara masih membawa sisa embun malam, tapi jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Dari balik kaca, ia melihat aula mulai ramai. Para staf berbisik pelan, berdiri di belakang pintu, menoleh ke arahnya. Ada sesuatu di udara yang sulit dijelaskan — seperti kabar buruk yang menunggu saat yang tepat untuk menampar.
Di atas mejanya, selembar kertas berkop DPRD tergeletak tanpa amplop. Judulnya: Mosi Tidak Percaya.
Tenri menatap kertas itu lama, seolah waktu menahan napas di antara baris-barisnya. Paragraf demi paragraf menuduhnya mencederai marwah lembaga, melanggar tata tertib, mengabaikan semangat kolektif kolegial.
Tiga puluh lima tanda tangan berderet di bawahnya dari empat puluh lima anggota. Tiga puluh lima wajah yang dulu memanggilnya sahabat.
Ia menarik napas panjang. Sejak pemilu lima tahun lalu, ketika ia kembali ke gelanggang politik lewat partai berbeda, ia tahu langkahnya bukan sekadar untuk dirinya. Ia adalah simbol perempuan muda dari desa, yang berani menantang wajah lama kekuasaan Bone.
Masih terngiang suara ayahnya, Petta Aras, di sore yang jauh:
“Kalau anak perempuanku bisa duduk di kursi yang biasanya hanya bapak-bapak, biarlah mereka tahu: kita juga bisa.”
Kalimat itu dulu seperti cahaya kecil di jalan panjang yang ia tempuh, dari Kampus Unhas hingga ruang rapat berpendingin udara. Sebuah perjalanan yang dipenuhi luka, namun juga dipeluk oleh keyakinan yang diam.
Kini, ia sadar. Menjadi simbol jauh lebih berat daripada menjadi siapa pun yang diwakilinya.
Awalnya, ia memimpin rapat dengan semangat lurus. Ia berdiri di podium utama, menatap barisan wajah para senior beruban, aktivis berapi, dan ibu-ibu fraksi besar dengan pandangan tajam.
Ia berkata, pelan tapi pasti, “Ruang ini bukan gelanggang siapa paling banyak bicara, tapi siapa paling banyak mendengar.”
Kata-kata itu dulu disambut tepuk tangan. Tapi waktu mengubah segalanya. Tekanan partai, bisik-bisik politik, urusan rumah tangga, gengsi antarfraksi, semuanya menumpuk seperti kabut yang menyesakkan.
Sampai akhirnya, surat itu datang. Dingin. Tenang. Tapi menusuk.
Sore itu, ruang rapat dipenuhi hawa beku. Ponsel staf merekam diam-diam dari balik pintu kaca.
Adriani, rekan dekat sekaligus rival lama, berdiri perlahan.
“Kami merasa tidak dihargai,” suaranya datar, tapi tegas.
“Terlalu banyak usulan fraksi yang ditolak tanpa alasan jelas,” lanjutnya.
Kata-katanya melayang seperti bilah tajam yang menebas udara. Tenri menatap mata-mata yang menghindar. Ia tahu, garis sudah digambar.
Malamnya, di rumah dinas, ponselnya bergetar. Pesan dari Maria, sahabat lamanya.
“Tenri, kamu lupa di mana kamu mulai.”
Hanya tujuh kata, tapi cukup untuk mengguncang hatinya lebih keras dari mosi itu sendiri.
Ia menatap jendela. Kota Bone berpendar lembut di kejauhan, tapi bayangan dirinya di kaca tampak asing, seorang perempuan dengan mata lelah, namun belum menyerah.
“Ya… mungkin aku lupa,” bisiknya pelan.
Beberapa hari kemudian, ia dipanggil Badan Kehormatan DPRD. Sebuah map biru diletakkan di depannya: Permohonan Pemeriksaan Ketua DPRD.
Tangannya bergetar membaca kalimat pertama. Ia tahu, jika rekomendasi itu keluar, kursi yang ia pertahankan dengan darah dan keyakinan akan hilang. Tapi lebih dari itu, kepercayaan rakyat yang ia wakili bisa ikut retak.
Di televisi lokal, wajahnya terpampang besar: “Ketua DPRD Bone Diancam Mosi Tidak Percaya.”
Ia menatap bayangannya di layar kaca. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar sendiri di tengah sorotan publik.
Malam sebelum sidang pleno, ia memanggil orang-orang terdekatnya. Sekretaris pribadi, dua staf loyal, dan sahabat masa kecilnya, Andi Salam.
Mereka duduk di ruang tamu rumah dinas yang remang. Kopi hitam mengepul di meja, suara jangkrik mengisi sela-sela diam.
Salam menatapnya dalam.
“Kamu punya dua jalan,” katanya pelan.
“Bertahan dan melawan, atau mundur dengan martabat.”
Tenri menatap cangkirnya. Aroma kopi terasa getir.
“Aku tak ingin mundur,” ucapnya lirih.
“Tapi aku juga tak ingin lembaga ini rusak karena aku,” tegasnya.
Mereka terdiam lama. Hanya bunyi detak jam dinding yang terdengar seperti menimbang keputusan.
Pagi berikutnya, aula DPRD Bone penuh sesak. Lampu sorot menyala terang, kamera wartawan berjejer di belakang. Suasana tegang seperti langit yang menahan hujan.
Tenri berdiri di podium. Suaranya tenang, tapi setiap kata bergetar.
“Saya berdiri di sini bukan untuk mempertahankan kursi,” katanya.
“Saya berdiri untuk menjaga marwah lembaga ini. Jika saya salah, silakan koreksi. Tapi jika ini soal ego, mari kita ingat, siapa yang sebenarnya kita wakili,” lanjutnya.
Hening panjang. Bahkan napas pun terdengar berat.
Ketua rapat membaca hasil voting: 35 suara setuju mosi tidak percaya. 9 abstain.
Aula bergemuruh pelan. Tenri menatap wajah-wajah itu satu per satu, lalu menunduk.
Dengan suara pelan yang menahan gemetar, ia berkata, “Saya menyerahkan mandat ini bukan karena kalah, tapi karena ingin melihat lembaga ini berdiri tegak tanpa bayang-bayang saya.”
Tepuk tangan pecah pelan, lalu menguat. Bukan karena kemenangan, tapi karena penghormatan.
Beberapa hari kemudian, lorong gedung itu kembali berdenyut. Debu disapu, tawa staf terdengar lagi. Di luar, rakyat mungkin tak tahu detail politiknya, tapi mereka tahu satu hal, ada pemimpin yang tahu kapan harus berdiri, dan kapan harus menunduk.
Sore itu, di rumah dinas, Tenri duduk di balkon. Langit Bone berwarna jingga lembut. Andi Salam datang membawa dua cangkir kopi.
“Kamu sudah baik?” tanya Salam.
“Aku lebih baik,” jawab Tenri.
“Sekarang aku tahu, memimpin bukan tentang menempel di kursi, tapi tahu kapan melepaskan.”
Angin sore membawa aroma pegunungan. Tenri menutup matanya. Dalam senyap, ia melihat lagi wajah ayahnya, jalan desa yang kini diperbaiki, anak-anak sekolah dengan seragam baru, ibu-ibu yang tersenyum di kantor pelayanan.
Ia tersenyum kecil. Mungkin kursinya terguncang, tapi harapan tak pernah roboh. Bahkan, mungkin kini berdiri lebih tegak dari sebelumnya.
Catatan Redaksi:
Cerpen ini merupakan karya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan peristiwa dalam cerita hanyalah hasil imajinasi penulis.


Tinggalkan Balasan