SimpulRakyat.co.id, Makassar – Di lorong-lorong sempit Kecamatan Tallo, Kota Makassar, suara letusan petasan berdaya ledak tinggi dan desing anak panah busur lebih sering terdengar dibanding lantunan azan subuh. Bagi warga, dentuman itu bukan lagi kejutan, melainkan rutinitas yang diwariskan dari masa ke masa.
Bentrokan terakhir pecah pada Selasa (23/9/2025). Empat rumah dan satu mobil dibakar, sementara empat orang terkena anak panah busur. Bagi warga sekitar, itu hanyalah satu episode lain dalam kisah panjang dendam antarkelompok yang telah berlangsung sejak 1989–tiga dekade lebih, lintas generasi.
Camat Tallo, Ramli Lallo, menyebut perang kelompok sudah seperti siklus tahunan.
”Kami sudah beberapa kali mediasi, menghadirkan tokoh masyarakat dan polisi, tapi selalu pecah lagi. Kadang habis damai, subuhnya sudah bakar motor lagi,” katanya.
Sejak kali pertama pecah 36 tahun lalu, konflik ini tak pernah benar-benar padam. Anak-anak yang dulu menonton ayah atau kakaknya terlibat tawuran, kini tumbuh menjadi pelaku baru. Dendam pun diwariskan, bahkan tanpa semua pihak benar-benar paham apa akar permasalahan awalnya.
”Masyarakat sekitar bilang dendam lama, tapi penyebabnya jujur kami tidak tahu. Ini yang sedang kami dalami,” ujar Kapolsek Tallo, Syamsuardi.
Sementara itu, Kapolrestabes Makassar, Arya Perdana, menilai perang kelompok di Tallo bukan sepenuhnya spontan. Ada tanda-tanda organisasi dan pendanaan. Polisi menemukan petasan berdaya ledak tinggi yang harganya mencapai Rp1 juta per buah.
“Dalam semalam bisa ditembakkan sampai 20 kali. Itu berarti Rp20 juta. Dari mana modal sebesar itu? Ini yang masih kami telusuri,” kata Arya.
Kecurigaan pun berkembang, benarkah konflik ini murni dendam lama, atau ada kepentingan ekonomi gelap yang ikut menghidupi sumbu kekerasan? Isu soal peredaran narkoba berulang kali disebut warga, meski aparat enggan berspekulasi.
Yang paling mencemaskan, perang kelompok sudah dianggap biasa oleh sebagian warga. Abdullah (36), warga Tallo, menyebut bentrokan semacam ini hampir rutin terjadi setiap tahun.
“Kalau lewat, kita terpaksa pegang kepala takut kena busur. Pecahan beling berserakan di jalan. Sudah seperti bagian hidup sehari-hari,” tuturnya.
Syamsuddin, warga lain, menambahkan perang baru berhenti jika ada korban meninggal.
”Tahun 2023 baru reda saat ada yang meninggal. Kalau tidak, bisa berminggu-minggu. Mereka sudah ada kode, begitu polisi lengah sedikit, langsung bergerak,” ucapnya.
Tak hanya pemuda, pelajar bahkan orang dewasa terlibat. Anak-anak di bawah umur menonton, belajar, lalu ikut mewarisi pola kekerasan yang sama. Tawuran berubah menjadi tontonan malam hari.
Mediasi, patroli, hingga penjagaan bersama TNI-Polri dan Satpol PP berulang kali dilakukan.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, bahkan memerintahkan pendirian posko di titik rawan. Namun, nyatanya konflik selalu menemukan celah untuk meledak kembali.
“Saya merasa sangat prihatin. Penguatan terhadap keamanan dan ketertiban lingkungan harus dimaksimalkan,” ujarnya.
Meski demikian, warga tetap menanggung akibat. Rumah terbakar, kendaraan rusak, hingga ketakutan yang membekas dalam keseharian.
Hampir empat dekade berlalu, perang kelompok di Tallo bukan hanya soal benturan antar-lorong. Ia telah berubah menjadi fenomena sosial: luka lama yang membeku, diwariskan sebagai identitas kolektif, bercampur dengan kepentingan ekonomi dan lemahnya rekonsiliasi.
Pertanyaan mendasar pun mengemuka: bagaimana memutus rantai dendam yang sudah menjadi tradisi? Tanpa jawaban yang tegas, Tallo akan terus hidup dalam bayang-bayang konflik, dari satu generasi ke generasi berikutnya.


Tinggalkan Balasan