SimpulRakyat.co.id, Pangkep – Ancaman penyakit leptospirosis kembali mencuat di Sulawesi Selatan. Di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), sebanyak 19 warga terinfeksi penyakit yang dikenal sebagai ”penyakit kencing tikus” itu. Satu pasien di antaranya meninggal dunia.
“Iya, penyebaran penyakit ini sudah terjadi di beberapa kecamatan. Total 19 orang telah terinfeksi, 18 di antaranya sudah sembuh, dan satu orang meninggal dunia. Korban meninggal merupakan warga Kampung Bontoe, Desa Pitue, Kecamatan Ma’rang,” ujar Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Pangkep, Mansyur, saat ditemui di kantornya, Senin (4/8/2025).
Leptospirosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan bakteri Leptospira. Penularannya terjadi melalui air, tanah, atau benda-benda yang terkontaminasi urin hewan, terutama tikus. Kasus penyakit ini cenderung meningkat di wilayah dengan sanitasi buruk dan lingkungan kumuh.
Menurut Mansyur, berdasarkan hasil observasi di lapangan, sumber penularan di Desa Pitue diduga berasal dari aktivitas pertanian rumput laut yang menggunakan peralatan terkontaminasi.
“Hasil observasi tim juga menemukan potensi penularan melalui aktivitas budidaya rumput laut. Talinya kemungkinan telah terkontaminasi kencing tikus,” ujarnya.
Dinkes Pangkep mencatat sejumlah gejala umum yang dialami pasien leptospirosis, antara lain demam, nyeri otot, mual, muntah, serta mata merah. Gejala-gejala tersebut kerap menyerupai penyakit demam berdarah atau influenza, sehingga rentan terabaikan.
Antisipasi dan Edukasi
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat agar lebih waspada dan menerapkan perlindungan diri, khususnya saat beraktivitas di lingkungan yang berisiko.
Lima langkah pencegahan leptospirosis yang disarankan Dinkes Pangkep adalah:
-
Menghindari kontak langsung dengan air atau benda yang diduga tercemar.
-
Menggunakan alat pelindung diri seperti sepatu bot dan sarung tangan saat berada di area berisiko.
-
Menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi potensi sarang tikus.
-
Menyimpan makanan dan minuman dengan aman untuk menghindari kontaminasi.
-
Segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala.
Mansyur berharap masyarakat lebih sigap menghadapi potensi penyebaran leptospirosis, terutama saat musim hujan dan di wilayah-wilayah yang belum memiliki sistem sanitasi memadai.
“Kami terus meningkatkan edukasi dan pemantauan di lapangan agar penyebaran tidak meluas,” tandasnya.


Tinggalkan Balasan