SimpulRakyat.co.id, Bulukumba – Suasana berbeda tampak di SMAN 1 Bulukumba, Kamis (19/6/2025). Para guru tak sekadar duduk mendengarkan materi.
Mereka terlibat aktif dalam praktik pemrograman dan eksplorasi kecerdasan artifisial (AI) dalam pelatihan bertajuk In House Training Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA).
Pelatihan sehari penuh ini dirancang interaktif. Para guru dibagi dalam kelompok-kelompok kecil, masing-masing menggarap proyek nyata: dari menyusun modul ajar berbasis AI, hingga menciptakan media pembelajaran visual yang imajinatif.
“Saya gaptek! bukan lagi alasan. Kita semua bisa belajar. Mulailah dari 10 menit sehari, gunakan alat seperti Scratch, Canva, ChatGPT,” ujar Dr Muhammad Yusran, pemateri utama pelatihan.
Yusran adalah sosok yang sudah lama dikenal sebagai penggerak literasi digital dan teknologi pendidikan di Sulawesi Selatan. Di tengah sesi, ia kerap langsung mencontohkan baris-baris kode sambil memantik diskusi tentang etika penggunaan AI di ruang kelas.
Kelompok 1 dan 2 menggarap efisiensi administratif menggunakan Gemini dan ChatGPT. Hasilnya berupa dokumen pembelajaran seperti LKP dan jurnal harian dapat disusun lebih cepat dan akurat.
Sementara itu, kelompok lain mengolah visual pembelajaran menggunakan Canva Magic Studio, meramu infografis dan ilustrasi dengan akun Belajar.id dari pemerintah.
Pelatihan ini juga mendapat dukungan penuh dari Penerbit Erlangga. Pimpinan Cabang Bulukumba, Pranata, hadir langsung dan menegaskan komitmen mereka sebagai mitra transformasi pendidikan.
“Erlangga bukan hanya penyedia buku, tapi juga fasilitator teknologi. Kami ingin membantu guru beradaptasi di era Society 5.0,” kata Pranata.
Sebagai bentuk dukungan konkret, Erlangga memfasilitasi uji coba aplikasi pembelajaran berbasis koding dan AI selama pelatihan berlangsung.
Dr Muhammad Yusran Yusuf adalah penggerak di balik pelatihan ini. Saat ini, ia menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 15 Bulukumba, sekaligus aktif membina berbagai komunitas digital sekolah.
Dia pernah mendirikan HACKER-82 Community, memimpin jurusan TKJ SMK Pepabri, serta membentuk ekstrakurikuler IT School untuk menumbuhkan semangat inovasi siswa.
Yusran adalah satu dari sedikit guru di Indonesia yang dua kali terpilih menjadi fasilitator nasional Bimtek Informatika Kemendikbudristek—seleksi yang hanya menjaring ratusan dari ribuan pelamar.
Ia juga mengantongi berbagai sertifikasi nasional dan internasional di bidang pendidikan, teknologi, hingga hypnoteaching.
Baginya, teknologi hanyalah alat. “Yang terpenting tetap guru. Teknologi hanya akan berguna jika digunakan dengan bijak dan kontekstual,” ujarnya.
Rangkaian inovasi yang telah ia hasilkan pun bukan sekadar konsep. Mulai dari antivirus buatan siswa (ANVIR), sistem presensi wajah, hingga aplikasi pembelajaran berbasis multimedia Qur’an Hadis, semuanya telah diterapkan di sekolah dan komunitas.
Pelatihan ini tak hanya bicara teknis. Dalam satu sesi, Yusran memandu diskusi tentang etika penggunaan AI. Misalnya, apakah boleh guru sepenuhnya menyerahkan pembuatan soal pada sistem otomatis? Bagaimana membangun kepekaan sosial dalam teknologi pendidikan?
“Guru harus memahami dasar-dasar pemrograman sebelum berbicara soal AI. Tanpa pemahaman, kita hanya akan jadi pengguna pasif,” tegasnya.
Metode pelatihan yang praktikal disambut antusias para peserta. “Ini kegiatan yang sangat relevan dan membuka wawasan. Semoga jadi pemantik transformasi digital di sekolah,” kata Kepala SMAN 1 Bulukumba, H Rusli.
Kepala Cabang Dinas Wilayah V, H Arafah, serta Pengawas Pembina, Sumardi, turut hadir memberikan dukungan.
Yusran juga menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar SMAN 15 Bulukumba yang selalu memberinya ruang untuk berbagi di luar tugas sekolah.
“Apapun jabatan, pangkat, dan gelar kita, jika bukan pada tempatnya, tanggalkan semua. Kita duduk tanpa perbedaan,” ungkapnya, merendah.
Pelatihan ditutup dengan refleksi hangat. Para guru mengaku, baru kali ini memahami AI bukan sebagai ancaman, tetapi sahabat dalam pembelajaran.
Yang tersisa bukan hanya kemampuan baru, tetapi semangat baru: bahwa teknologi-dengan seluruh kecanggihannya—tetap memerlukan sentuhan manusiawi untuk bermakna di ruang kelas.
“Menjadi pendidik hebat tidak harus tampil hebat. Yang penting adalah berdampak dan memberdayakan,” pungkas Yusran.


Tinggalkan Balasan