SimpulRakyat.co.id, Makassar – Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar menunjukkan komitmennya dalam mendukung percepatan ekosistem kendaraan listrik berbasis baterai (KBLBB) di Indonesia.
Langkah ini ditandai melalui partisipasi aktif Unhas dalam program Gatrik Goes to Campus (GGTC) yang digelar Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Enhancing Readiness for the Transition to Electric Vehicles in Indonesia (ENTREV), Rabu (4/12) kemarin.
Kegiatan tersebut menjadi wadah kolaborasi lintas sektor untuk mencari solusi konkret bagi masa depan energi bersih Indonesia.
Sekretaris Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Ida Nuryatin Finahari, dalam sambutannya menegaskan pentingnya peran kendaraan listrik sebagai solusi transportasi yang ramah lingkungan.
“Kendaraan listrik bukan hanya transportasi yang lebih efisien, tetapi juga kunci menjaga kualitas udara bersih dan mengurangi emisi gas rumah kaca,” ujar Ida, Kamis (5/12).
Ia juga menyoroti kebijakan pemerintah, seperti Perpres No. 79 Tahun 2023, yang memberikan insentif hingga Rp10 juta untuk konversi sepeda motor listrik.
Ida menekankan, percepatan ekosistem kendaraan listrik membutuhkan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat.
Hal ini didukung oleh Ketua Departemen Teknik Elektro Unhas, Prof Faizal Arya Samman, yang menyebut perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam inovasi riset dan pengembangan sumber daya manusia.
“Universitas Hasanuddin berkomitmen menjadi bagian dari solusi, baik melalui riset inovatif maupun pengembangan SDM unggul yang mendukung teknologi kendaraan listrik,” tegas Prof Faizal.
Infrastruktur dan Kolaborasi Jadi Penopang Ekosistem EV
Dalam diskusi, Andi Hanif, Inspektur Ketenagalistrikan Ahli Muda, memaparkan perkembangan signifikan infrastruktur kendaraan listrik di Indonesia.
Hingga September 2024, sebanyak 1.800 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan 1.882 Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) telah tersebar di seluruh Indonesia.
“Infrastruktur ini adalah tulang punggung ekosistem kendaraan listrik yang inklusif,” jelas Andi Hanif.
Sementara itu, Eko Adji Buwono, Project Coordinator ENTREV, menyoroti pentingnya integrasi kebijakan untuk mendukung ekosistem KBLBB yang berkelanjutan.
ENTREV bersama UNDP berperan dalam mendorong sinergi antara kebijakan lokal dan penguatan kapasitas masyarakat.
“Kami percaya keberhasilan transisi energi ini terletak pada kolaborasi erat semua pemangku kepentingan,” ujar Eko.
Koordinator Perencanaan Program Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Arifuddin, menambahkan bahwa target pemerintah untuk mencapai tujuh juta motor listrik pada 2030 dapat terealisasi dengan dukungan insentif yang ada. Konversi sepeda motor konvensional ke motor listrik, katanya, memberikan manfaat besar dalam pengurangan emisi CO2 dan efisiensi biaya operasional.
SMK Negeri 10 Makassar: Bukti Praktis Konversi Motor Listrik
Dalam acara tersebut, Kepala Bengkel Jurusan Otomotif UPT SMK Negeri 10 Makassar, Muhlis Asikin, berbagi pengalaman praktik konversi motor listrik. Menurutnya, keterlibatan SMK dalam program ini tidak hanya memberikan solusi teknis, tetapi juga membuka peluang karier baru bagi siswa.
“Kami bangga menjadi bagian dari transisi energi nasional, mendukung generasi muda dalam memahami teknologi kendaraan listrik,” ujar Muhlis.
Melalui acara ini, Universitas Hasanuddin dan berbagai pihak berkomitmen memperkuat kolaborasi demi masa depan energi bersih Indonesia. Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa perubahan besar bisa dimulai dari kampus dan masyarakat lokal. (**)


Tinggalkan Balasan