SimpulRakyat.co.id, Makassar –  Juru Bicara pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Danny-Azhar (DiA), Asri Tadda, memberi tanggapan terkait hasil survey lembaga Script Survey Indonesia (SSI) untuk Pilgub Sulsel 2024 sepertinya telah dipelintir dengan maksud tertentu.

“Tak pernah sekalipun saya menyatakan SSI sebagai lembaga survei abal-abal, namun ada pihak yang secara sengaja mencoba mengarahkan hal tersebut, seperti hendak mengaburkan substansi perdebatan, menikung pada hal yang diluar konteks,” kata Asri Tadda melalui keterangan elektronik yang diterima Simpul Rakyat, Jumat (27/9/2024).

“Kebetulan saya juga terlibat dalam dunia survei dan konsultasi pemenangan politik. Saya cukup paham dengan bagaimana sebuah survei politik dilaksanakan, dan di tahap mana intervensi dapat saja dilakukan (jika harus dilakukan sebagai bagian dari startegi untuk memenangkan klien),” tambah dia.

Karena itu, menurut Asri Tadda, boleh-boleh saja dia meragukan hasil survei dari SSI terkait Pilgub Sulsel. Pasalnya, hasil survey SSI bertolak belakang dengan hasil survey internal pihaknya, dimana pasangan DiA sangat meyakinkan bakal memenangi Pilgub Sulsel 2024.

Asri Tadda mengatakan, dalam beberapa kasus, hasil survey SSI berbeda cukup jauh dengan lembaga survei yang berskala nasional. Ini, kata Asri Tadda, tentu membuat bingung publik.

“Saya mengambil contoh survey SSI di Kabupaten Luwu Timur baru-baru ini. SSI melakukan survei Pilkada Luwu Timur pada 2-8 September 2024, dengan hasil Budiman – Akbar (47,32), Ibas – Puspa (41,95) dan Isrullah – Usman (2,93),” ungkap dia.

“Di saat yang sama, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) milik Denny JA juga melakukan survey per tanggal 2-10 September, dengan hasil Budiman – Akbar (39,2), Ibas – Puspa (44,9) dan Isrullah – Usman (3,0),” tambah Asri Tadda.

Dia juga mengaku heran karena hasil survei kedua lembaga tersebut terdapat perbedaan yang mencolok.

“Nah, dalam kasus Luwu Timur dibatas, siapakah yang benar? Apakah SSI atau LSI yang sudah berskala nasional milik Deny JA itu? Salah satunya pasti salah, atau bahkan keduanya juga bisa salah,” ujar dia.

Terkait hal itu, Asri Tadda meminta publik untuk tidak mudah terpengaruh oleh rilis survei tersebut.

“Karena itu, saya mewanti-wanti masyarakat agar jangan terlalu mudah percaya atau terhasut oleh hasil lembaga survey, terutama yang dipublikasikan secara luas. Karena bisa saja survei tersebut telah dikondisikan untuk membangun atau mempengaruhi opini publik untuk kepentingan politik Paslon tertentu,” kata dia.

“Saya mengajak kepada seluruh masyarakat Sulawesi Selatan untuk menjadi pemilih yang cerdas, yang tidak mudah terbuai dan terpengaruh dengan rilis hasil survey yang dipublikasikan secara terbuka,” ajak Asri Tadda.

Asri berpendapat, pemilih cerdas adalah mereka yang menentukan pilihan karena kualitas dan rekam jejak prestasi kandidat, pada visi dan gagasan kandidat, bukan pada hasil survei.

“Yang tak kalah penting, saya mengajak kepada seluruh pihak yang terlibat dalam kontestasi Pilgub mendatang, agar tetap mengedepankan komunikasi yang positif, yang tidak mengarah pada upaya fitnah dan adu domba,” ujar dia.

“Mari menjadikan Pilgub 2024 sebagai ajang para kandidat untuk bertarung dengan gagasan dan ide-ide terbaik mereka, dalam ikhtiar membangun Provinsi Sulawesi Selatan menjadi lebih sejahtera, adil dan makmur,” tambah Asri Tadda.

Asri Tadda juga mengatakan, sudah saatnya rakyat Sulawesi Selatan memperoleh pemimpin yang benar-benar berkualitas, pemimpin yang memiliki rekam jejak birokrasi dan prestasi yang jelas dan nyata, bukan hanya klaim atau polesan semata.

“Hanya pemimpin berkualitas yang lahir, tumbuh dan besar dalam proses politik yang panjang, bisa membawa Sulawesi Selatan berubah menjadi lebih baik untuk semuanya. Dan Insya Allah, semua itu ada pada pasangan nomor urut 1, yakni Danny Pomanto – Azhar Arsyad,” pungkas Asri Tadda.

Penulis: Asri Tadda (Direktur KAMPUS MERAH Research & Consultant (KMRC)/Jubir Danny – Azhar)