SimpulRakyat.co.id – Telah banyak duka kau hiasi dengan teduh. Menyusui lelahmu dengan cinta paling utuh.
Di rahimmu, ku temui para lelaki memukat nasibnya. Hidup sehari, mati berhari-hari.
Kau tinggalkan tawamu menjemput air mata pada lambung waktu yang sering membuatmu tersenyum pedih.
Letih yang kau jemur di sudut rumah cinta sesekali basah kuyup diterpa rintik-rintik duka.
Bibirmu pecah, takdirmu runtuh. Kau berteduh menghirup aroma mimpi yang kini begitu gaduh.
Helai-helai luka yang dibingkai dengan janji terlanjur menghanyutkan senyummu dalam tangis.
Kau menahan semua derita, berita tentang bahagiamu telah jauh mengais tempat beristirahat paling nyaman.
Suatu hari di urat waktu, kau meminta dirimu utk berhenti menjalani semuanya. Menutup diri, mengatup luka sendiri.
Kau tak ingin memeluk hal lain, selain mendengar suaramu menghantar ucapan “di bagian luka tanpa muka. Aku ingin melihatmu sekali sebelum ku sesali sendiri cara merayakan tawa”. (*)


Tinggalkan Balasan