Simpulrakyat.co.id, Makassar – Perang kelompok (Perpok) pecah lagi di jalur Gaza jalan Kandea kelurahan Baraya kecamatan Bontoala. Pertikaian antar dua kelompok lintas kecamatan ini terjadi sekira pukul 01.00 hingga pukul 03.00 Wita, Jumat (01/7/2022) dini hari.

Menurut keterangan warga yang berdomisili di wilayah rawan perpok (perbatasan kelurahan Baraya kec. Bontoala – kel. Bunga ejaya kecamatan Tallo), menyebutkan bahwa insiden ini bermula saat sekelompok pemuda tiba tiba datang menyerang ke wilayah Baraya menggunakan batu dan anak panah, kemudian dibalas oleh warga Baraya. Saling serang pun terjadi antar kedua kubu hingga pukul 03.00 Dini hari.

Ilustrasi Pertikaian kelompok

“Penyerangan pertama itu di jalur Gaza depan tidak pakai topeng yang dipimpin oleh putra, salah satu anak Gank setrum, dari jam 1 malam sampai jam 3 subuh. Waktu subuh warga (Baraya) sudah berhenti membalas, karena tdk puas perang di jalur Gaza depan, akhirnya mereka lanjut menyerang dengan memakai topeng di jalur Gaza pinggir kanal sambil teriak teriak menantang dan melempari rumah yang ada di perbatasan, tapi karena tidak ada perlawanan, mereka berhenti sendiri.” terang warga.

“Di jalur Gaza pinggir kanal ada CCTV jadi mungkin supaya tidak ketahuan identitasnya mereka pakai topeng.” sebutnya.

Tidak ada korban jiwa yang diakibatkan oleh pertikaian itu, namun beberapa rumah dan gerobak jualan milik warga mengalami kerusakan akibat amukan anggota kelompok bertopeng tersebut.

Dari informasi yang dihimpun, diduga Perpok terjadi lantaran salah seorang warga Baraya (IN) bergaul dengan anak Setrum Bunga ejaya, karena dianggap tidak setia kawan dengan sesama warga baraya IN akhirnya dipukuli oleh R alias Ompeng (warga Baraya), kemudian IN melaporkan pemukulan itu kepada teman temannya di Gank Setrum. Berselang beberapa saat terjadilah aksi penyerangan oleh sekelompok pemuda bertopeng.

“Diduga (IN) dia ini menghasut dan menyulut emosi anak anak Gank SETRUM sampai melakukan penyerangan ke Baraya dan pecah lah perang.” ketusnya.

Warga sangat menyayangkan perang kelompok terjadi kembali, mengingat sebelumnya telah beredar pemberitaan di salah satu media yang menyebutkan bahwa “provokator” perpok Kandea sudah ditahan oleh aparat Polsek Bontoala sejak Ramadhan lalu. Namun pada kenyataannya tidak memberikan efek pasca penahanan itu.

Menurut saksi mata penyerangan itu terjadi tepat di depan pos polisi yang didirikan sebagai posko keamanan untuk mengantisipasi perang kelompok.

“Penyerangan dilakukan di depan posko polisi yang katanya 1×24 jam Stand by, terus kenapa sampai pecah perang kalau ada ji polisi yang jaga.” ucapnya.

“Kita berharap pihak berwenang serius menangani perang kelompok, kalau begini terus ji bisa muncul kesannya polisi tidak mampu.” harapnya. (Mi*)