SimpulRakyat.co.id, OPINI – Pendidikan dan dakwah memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan untuk membekali umat manusia dalam menghadapi pergolakan kehidupan yang semakin kian tak terkendali. Untuk mensyiarkan ilmu dengan cara berdakwah tentunya sebuah lembaga pendidikan memerlukan proses pendanaan demi kelancaran dan perkembangan suatu lembaga. Jer basuki mawa bea, salah satu pepatah atau falsafah Jawa yang memiliki arti jika menginginkan kesuksesan maka diperlukan adanya pengorbanan. Agar lebih produktif dan berkembang dengan pesat maka lembaga pendidikan yang dikelola oleh sebuah yayasan pesantren harus berpikir kreatif.
Setiap kegiatan pendidikan memerlukan biaya. Untuk itu, dana pendidikan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kelancaran proses pendidikan, contohnya untuk pembangunan asrama santri, pendanaan kitab-kitab, pemeliharaan asrama, dan kegiatan belajar mengajar lainnya. Darimana semua itu akan diperoleh jika sebuah lembaga yayasan pesantren tidak memiliki pendanaan untuk menguatkan perekonomian pesantren secara mandiri?
Sumber dana dapat diperoleh melalui (1) wakaf artinya sumbangan, (2) Shodaqoh, dan (3) hibah artinya pengeluaran harta semasa hidup untuk kepentingan keagamaan. Dalam hal pembiayaan, pendidikan pesantren lebih mengandalkan pada kemandirian lembaga yang diperoleh dari berbagai sumber yang ada berupa sumbangan para santri dan orang tua, wakaf, zakat, infak dan shodaqoh. Salah satu sumber dana yang selama itu terus mengalir di beberapa pondok pesantren berasal dari donatur. Donasi sebagai sumber dana pendidikan memang tidak dapat dijadikan sebagai patokan karena aliran dananya tidak dapat dipastikan. Untuk itu suatu yayasan, harus mampu menciptakan kemandirian yang tidak bergantung kepada donatur saja melainkan juga harus mengembangkan kreatifitas.
Kepekaan orang yang tidak mampu, bisa berbagi kreasi dalam kemandirian
Bagi kalangan tertentu, ketidakmampuan dan keterbatasan akan melahirkan sebuah kreativitas yang dapat membentuk jiwa kemandirian. Pada dasarnya secara kuantitas, potensi dukungan masyarakat luas terhadap dana pendidikan pesantren sangatlah besar, dengan populasi penduduk Indonesia yang berjumlah kurang lebih 210 juta, 85% adalah umat Islam, yang berarti 178,5 juta orang. Dalam kenyataannya potensi ini belum tergali dengan baik sehingga kurang memberikan dampak bagi pendidikan pesantren. Maka sudah saatnya kini pesantren lebih bisa memanfaatkan potensi dan kreasi secara lebih baik.
Gagasan
Pesantren mampu mencetak generasi penerus bangsa yang handal dan tidak kalah dengan lulusan pendidikan formal. Untuk merespon tantangan zaman tersebut, pesantren memiliki daya dorong untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik termasuk dalam kemandirian ekonomi. Menurut Chusnul Chotimah dalam studi kasusnya di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, bahwa kemandirian ekonomi di pondok pesantren Sidogiri dimulai dari internalisasi nilai-nilai intangibles kepada santri, sehingga jiwa santri tergerak melakukan yang terbaik untuk pondok pesantren. Untuk selanjutnya, bagaimana sebuah pesantren dapat mencapai kemandirian dalam bidang perekonomian, dapat dimulai dengan berbagai langkah berikut.
1. Sosialisasi jiwa kemandirian
Pimpinan pesantren membekali jiwa kemandirian pada santri agar mereka mampu menciptakan sebuah ide-ide kewirausahaan demi mencapai perekonomian yang lebih baik. Pesantren memiliki sumber daya manusia yang cukup memadai untuk mengelola sebuah usaha yang nantinya keuntungannya dapat digunakan untuk mendukung biaya pendidikan yayasan pesantren.
2. Merubah Mental
Tidak semua pesantren dapat berkembang baik dalam hal kemandirian ekonomi. Namun sejatinya, pesantren memiliki peluang unt
Oleh: Mas Andre Hariyanto
Penulis Aktif Menggeluti Kajian Media & Founder Komunitas Taklim Jurnalistik
SimpulRakyat.co.id adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.


Tinggalkan Balasan