SimpulRakyat.co.id, Luwu – Fajar mulai menyingsing, Ilham mulai sibuk merapikan susunan jualannya, memastikan seluruh sudut barisan simetris demi memanjakan mata pengunjung.
Menurutnya, susunan yang rapi akan meningkatkan minat pengunjung dalam berbelanja. Merapikan susunan barang, membersihkan ruko dan mempersiapkan kebutuhan untuk berjualan masih dilakukan Ilham senidiri. Maklum, usahanya masih kecil-kecilan waktu itu.
Sejak tahun 2009, Ilham bersama ibunya mengawali usaha berjualan kue Gambung, memproduksi beberapa bungkus saja tiap harinya dengan harapan ada beberapa pengguna jalan Trans Sulawesi, poros Siwa-Belopa, tepatnya di depan pasar lama Suli, mampir dan membeli dagangannya.
Tidak berharap banyak, mampu menjual beberapa bungkus saja dalam sehari, adalah sebuah kesyukuran bagi Ilham. Pasalnya, kue gambung saat itu masih belum dilirik masyarakat. Hanya berharap dari kalangan pecinta rasa tradisional saja. ya, diperkirakan orang yang berumur diatas tiga puluan.
Namun kemudian, usaha kue gambung milik Ilham bersama ibunya melambung tinggi pada tahun 2018, seakan takdir mewajibkannya untuk berkembang, derai keringatnya selama ini, mulai terbayarkan.
Toko kecilnya mulai direnovasi, packingan kue gambungnya yang dulunya masih menggunakan mika biasa,juga didesain lebih menarik, hingga menyuguhkan lebih banyak varian rasa. Ada rasa pandan, kelapa kopyor, durian, serta rasa original.
Perubahan besar yang dilakukan Ilham seraya menjadi magnet bagi para konsumennya. Bukan hanya dari kalangan orang tua, kalangan anak-anak dan remaja mulai menyukainya. Kue gambung milik Ilham kemudian menjelma bagaikan petualang, karena penikmatnya bukan pada skala sulawesi saja.
Gambung milik Ilham diceritakan pernah menempuh perjalanan laut selama dua minggu hingga ke negeri paman syam. Ya, Gambung khas Luwu ini digemari cita rasanya dan mampu bertahan lama tanpa bahan pengawet sehingga kerap dijadikan buah tangan bagi para perantau.
Kue gambung milik Ilham yang dibuat dari bahan dasar tepung, kelapa parut, dan gula merah diramu dengan resep rahasia keluarga sendiri, sehingga disebutnya berbeda dengan kue gambung buatan tempat lain. Ilham menjamin, tekstur kue gambung miliknya yang empuk tidak akan berubah keras walau disimpan hingga waktu dua minggu.
Harganya tidak terbilang mahal, dibadrol mulai dari harga sepuluh ribu rupiah, hingga tiga puluh lima ribu rupiah, tergantung banyaknya dan jenis varian yang diinginkan.
Setelah berhasil menjual ratusan bungkus perhari di tokonya ‘Dapur Kue Gambung,’ Ilham semakin melebarkan sayapnya, menggunakan jalur-jalur distribusi, menyodorkan produknya ke toko -toko oleh -oleh di sejumlah kabupaten seperti Enrekang hingga warung-warung kopi di ibu kota Makassar.
Dengan menjaga kualitas dengan baik, kue gambung Ilham nampak laku dipasaran, permintaan pasarpun semakin meningkat. Melihat peluang itu, Ilham mulai merekrut karyawan guna meningkatkan produksinya. Proses pengerjaannya juga mulai semakin moderen dengan dibantu beberapa jenis mesin.
Meski demikian dalam produksinya, masih dalam pengawasan penuh Ilham bersama Ibunya agar cita rasa yang dihasilkan, tidak berubah.
Sayangnya, pada awal tahun 2020, usaha Gambung yang dilakoni Ilham sempat kandas di tengah jalan, lebih dari tiga puluh karyawannya terpaksa dirumahkan untuk mengurang beban produksi.
Hantaman keras gelombang pandemi mengamputasi sejumlah sektor pemasarannya. Sebut saja warung kopi di ibu kota sempat memutus kerjasamanya untuk beberapa waktu. Pasalnya kebijakan walikota saat itu mewajibkan pedagang untuk menutup rapat usaha warung kopi karena alasan pandemi.
Meski demikian, hingga kini Ilham masih mempertahankan usahanya. Memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen, menjaga kualitas produksi menjadi kunci kesuksesan Ilham bertahan ditengah pandemi Covid-19. Ia kemudian berharap pandemi segera berlalu, demi berputarnya kembali roda ekonomi.
“Di tengah pandemi seperti saat ini, kita tidak bisa berfikir untuk mengembangkan usaha, mempertahankan apa yang ada saja sudah lebih dari cukup,” pungkasnya.
Selain Gambung milik Ilham, sejumlah pedagang gambung mulai menjamur di sepanjang jalan kecamatan Suli Kabupaten Luwu, mulai dari toko kelontong, emperan, hingga ruko, memiliki segmentasi pembelinya masing-masing. Hal itu membuktikan jika kue Gambung khas Luwu telah ini digemari Masyarakat luas.

Bahan-bahan
1 kg gula pasir
200 ml air kelapa
200 ml minyak sayur
2 kg terigu
Panili,baking pawder,soda kue secukupnya
Unti kelapa untuk isian
10 Telur atau sesuai selerah
Cara pembuatan
1. Siapkan unti untuk isian
2. Gula pasir,air kelapa,minyak sayur,di masak sampai mendidih,dan dinginkan
3. Setelah adonan gula itu dingin,campurkan dgn kocokan telur,panili,soda kue,baking pawder dan terigu,sampai adonanx bisa di pulung
4. Ambil sedikit adonan isi dgn unti dan bentuk sesuai selerah. tata di atas loyang dan bakar di open dengan api sedang.
Reporter: M Fatwa
Editor: Sukma Paramita


Tinggalkan Balasan