SimpulRakyat.co.id, Pangkep – Universitas Negeri Makassar (UNM) melalui program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Tahun Anggaran 2026 melaksanakan sosialisasi kecerdasan sosial emosional bagi santri di Pesantren Assirotal Mustaqim, Baru-Baru Tanga, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung penguatan karakter serta perkembangan sosial emosional generasi muda, khususnya para santri yang sehari-hari menjalani aktivitas dalam lingkungan pendidikan berbasis pesantren.

Tim pengabdi UNM yang terlibat dalam kegiatan tersebut terdiri dari Dr Ibrahim, Sagita Ramadhana, dan Dr Suriani Abbas.

Dr Ibrahim mengatakan, kecerdasan sosial emosional penting dimiliki santri karena kemampuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan emosi, tetapi juga bagaimana seseorang memahami orang lain dan membangun hubungan sosial yang sehat.

“Kecerdasan sosial emosional merupakan bagian penting dalam pembentukan karakter santri. Mereka perlu mampu mengenali dan mengelola emosinya, memahami perasaan orang lain, berkomunikasi dengan baik, serta menyelesaikan persoalan secara positif,” kata Dr Ibrahim.

Menurut dia, lingkungan pesantren yang menempatkan santri dalam suasana kebersamaan menjadi ruang yang tepat untuk mengembangkan kemampuan tersebut.

“Di lingkungan pesantren, santri berinteraksi dengan banyak orang dengan karakter dan latar belakang yang berbeda. Karena itu, kemampuan mengendalikan diri, menghargai perbedaan, berempati, dan bekerja sama perlu terus dibangun,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, tim pengabdi memberikan materi dan pendampingan secara langsung dengan pendekatan komunikatif dan interaktif. Materi disesuaikan dengan pengalaman sehari-hari para santri sehingga lebih mudah dipahami dan diterapkan.

Para santri mendapatkan pemahaman mengenai berbagai bentuk emosi, cara mengenali kondisi emosional diri, serta strategi mengelola emosi secara positif.

Mereka juga diajak memahami cara menghadapi perbedaan pendapat, mengendalikan diri ketika menghadapi persoalan, serta membangun hubungan yang harmonis dengan teman dan orang-orang di lingkungan sekitar.

Selain pengelolaan emosi, materi juga mencakup empati, komunikasi, kepedulian, kerja sama, dan kemampuan membangun relasi sosial yang sehat.

Suasana kegiatan berlangsung antusias. Para santri mengikuti materi dengan penuh perhatian dan terlibat dalam berbagai interaksi bersama tim pengabdi. Contoh-contoh yang digunakan dalam penyampaian materi juga diambil dari situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka.

Dr Ibrahim berharap, kegiatan tersebut tidak berhenti pada pemahaman selama sosialisasi, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami berharap para santri dapat membawa pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan ini ke kehidupan sehari-hari, baik ketika berinteraksi dengan teman, guru, pembina, keluarga maupun masyarakat. Dengan begitu, keterampilan sosial emosional dapat menjadi bagian dari karakter mereka,” pungkasnya.

Melalui program PKM tersebut, UNM juga berupaya menjalankan Tridarma Perguruan Tinggi, khususnya melalui kegiatan pengabdian yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat dan lembaga pendidikan.

Kegiatan di Pesantren Assirotal Mustaqim diharapkan dapat memperkuat kemitraan antara UNM dan lembaga pendidikan keagamaan sekaligus membuka ruang bagi pelaksanaan kegiatan edukatif dan pengembangan potensi santri pada masa mendatang. (Misba)