Ketua KGS-LAI Sulsel Sebut Tenaga Kontrak Tak Boleh Dipekerjakan Jangka Panjang

  • Whatsapp
Muh Bahar Razak. (Foto: Istimewa).

SimpulRakyat.co.id, Makassar – Kondisi perekonomian global saat ini tengah mengalami pelemahan dan ketidakpastian. Pertumbuhan ekonomi global yang melambat telah memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap perekonomian Indonesia.

Hal itu dikatakan Ketua DPD Komando Garuda Sakti (KGS) – Lembaga Aliansi Indonesia (LAI) Provinsi Sulawesi Selatan, Muh Bahar Razak ke media ini di Makassar, Selasa (24/11).

Baca Juga

“Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, Pemerintah terus berupaya untuk mempertahankan daya beli masyarakat, mendorong peningkatan konsumsi pemerintah serta meningkatkan kinerja investasi,” ujar Bung Bahar.

Bahar mengungkapkan, jika diuraikan secara detail, permasalahan yang masih menjadi penyebab rendahnya peringkat kemudahan berusaha disebabkan oleh beberapa indikator, seperti rumitnya perizinan dalam memulai berusaha, pengadaan lahan yang rigid, sulitnya mendapatkan akses pembiayaan, penyelesaian kepailitan.

Indikator-indikator tersebut, kata Bahar, tidak hanya memiliki peringkat yang rendah, namun pada 2020 mengalami penurunan peringkat yang dapat dikatakan justru memburuk, sehingga perlu dilakukan sebuah upaya serius agar iklim investasi dapat menjadi lebih baik.

“Komando Garuda Sakti Lembaga Aliansi Indonesia akan berupaya di dalam mewujudkan keinginan luhur Pemerintah dalam mencapai cita-cita harmonisasi regulasi di bidang perizinan berusaha,” kata Bahar.

Dengan demikian, Lanjut Bahar, reformasi perlu dilakukan untuk menyelesaikan hambatan investasi, yakni panjangnya rantai birokrasi, peraturan yang tumpang tindih, dan banyaknya regulasi yang tidak harmonis.

“Sedangkan untuk ketenagakerjaan, pihaknya telah melakukan Identifikasi pada beberapa perusahaan yang berada di Kawasan Industri Makassar dan perusahaan-perusahaan Badan Usaha Milik Negara,” tambah Bahar.

Hal ini ujar Bahar, tidak lain bagaimana menciptakan suatu hubungan antara pekerja dengan perusahaan saling membutuhkan dan tetap mengacu pada pembatasan jenis pekerjaan yang dapat dilakukan oleh karyawan Kontrak, yaitu pekerjaan yang bisa ditebak (predictiable) penyelesaiannya, pekerjaan musiman dan pekerjaan yang bukan merupakan pekerjaan utama perusahaan pemberi kerja.

“Sedangkan Fakta Lapangan, sampai detik ini praktik pekerjaan yang bersifat terus-menerus pun menggunakan tenaga kontrak (Outsourcing), inilah yang perlu ditertibkan,” tutup Bahar. (AAN)

Berita Menarik Lainnya