Lagi, Media Nurani Maluku Lakukan Pembohongan Publik Mengenai Wartawan KKT?

Lagi, Media Nurani Maluku Lakukan Pembohongan Publik Mengenai Wartawan KKT?

Editor: Elya
Jumat, 14 Juni 2019



SimpulRakyat.co.id, Saumlaki - Releasan berita di laman Media Nurani Maluku edisi Selasa (11/6), dengan judul "Diduga Andil Kadis Kominfo, Bupati KKT Tertipu" adalah suatu bentuk pembohongan publik dan fitnah yang luar biasa, yang dilakukan oleh wartawan dan sekaligus pimpinan redaksi Nurani Maluku, Costan Ette.

Dalam releasannya, Cos Ette (nama panggilan) menuding beberapa oknum wartawan Kepulauan Tanimbar dan kadis Kominfo telah melakukan pembohongan terhadap Bupati Kepulauan Tanimbar Petrus Fatlolon. Dugaan kuat bahwa, yang bersangkutan sengaja ingin mengadudombakan para wartawan KKT dengan Bupati dan pejabat Pemda KKT.

Tudingan tersebut langsung dibantah oleh beberapa wartawan KKT ketika melakukan pertemuan di Cafe Defnatar, Kamis (13/6).

"Saya mau klarifikasi terkait berita di Nurani Maluku kemarin yang mencatut nama saya dan beberapa teman wartawan KKT. Apa yang dituduh oleh Cos Ette itu tidak benar. Awalnya, H-1 sebelum pilpres, kita liput di Lanal Saumlaki. Disana, saya sempat ditanyakan oleh kepala bapeda bahwa wartawan apakah tidak buat quick Count? Dalam hati saya, ada benar juga. Olehnya itu saya dan beberapa teman (11 orang) setelah dari Lanal langsung ketemu pak bupati. Disana kami mengusulkan apa yang dibilang oleh kepala bapeda soal Quick Count pilpres tadi. Pak bupati langsung respon dan memberikan biaya operasional untuk kita melakukan peliputan di beberapa kecamatan, dan itu kami lalukan, beritanya juga ada. Tidak ada niat sedikitpun untuk membohongi pak bupati seperti yang dituduhkan oleh Cos Ette di medianya Nurani Maluku," jelas Novi Kotngoran dalam jumpa pers itu.

Selain itu, oknum wartawan yang dituding Cos Ette ikut andil membohongi bupati KKT adalah Simon Lolonlun sekalu pimpinan redaksi media Dhara Pos. Dengan tegas dia membantah tudingan Cos Ette itu.

"Saya bantah berita di Nurani Maluku edisi Selasa 11 juni 2019, yang menuding bahwa saya ikut andil membohongi pak bupati. Saya harus bilang bahwa, berita ini masuk kategori berita murah meria dari orang murahan. Saya menilai bahwa, ini tipe orang murahan yang kerjanya hanya mencari perhatian untuk dikasihani. Dia sudah menyebarkan berita bohong, mencari sensasi untuk dikagumi karna itu target dia," ungkap Simon Lolonlun.

Dia menilai, Cos Ette sengaja membuat pemberitaan yang sifatnya hoax/bohong karena tidak sesuai dengan fakta yang ada.

"Dia tidak tahu bahwa, waktu para wartawan ketemu pak bupati, saya tidak ada. Kok malah nama saya dibawah - bawa. Saya merasa ini adalah fitnah yang keji, yang dilakukan oleh Cos Ette di medianya. Olehnya itu, saya berencana akan polisikan yang bersangkutan," sambung Lolonlun.

Dalam isi berita Nurani Maluku itu sempat disebutkan bahwa, informasi tersebut disampaikan oleh salah seorang wartawan senior di KKT. Wartawan senior yang dimaksud adalah wartawan RRI Jefri Ranglalin yang sekaligus Ketua PWOIN (Persatuan Wartawan Online Independen Nusantara) Kepulauan Tanimbar. 

Jefri Ranglalin membantah apa yang menjadi komentarnya di dalam berita tersebut.

"Itu terlalu berlebihan. Waktu itu dia (Cos Ette) telepon saya dan tanyakan hal itu, tapi saya tidak perna bilang siapa saja yang ketemu pak bupati dan berapa jumlah biaya yang dikasih. Saya hanya bilang bahwa saya sempat dengar dari salah satu teman wartawan kalau mereka ketemu pak bupati untuk melakukan Quick Count pemilihan umum kemarin. Intinya saja bahwa dia terlalu berlebihan menuduh teman - teman wartawan," ungkap Ranglalin.

Lantaran berita yang dibuat Costan Ette itu, semua wartawan KKT menjadi marah karena merasa Cos Ette sengaja membangun konflik antar sesama wartawan. Cos Ette juga dianggap tidak tahu etika sesama jurnalis. Apalagi dia sering datang di Tanimbar dan melakukan peliputan disana namun tidak ada wartawan KKT satupun yang mengusiknya. Semuanya bersikap wellcome dan merasa Cos Ette adalah saudara se-profesi, namun apa yang dibuatnya itu sama sekali tidak etis.

Salah satu wartawan KKT, sempat mengeluarkan statement yang keras terhadap dirinya.

"Saya Rollan Futwembun, wartawan media Skandal, ingin mengatakan bahwa apa yang diberitakan di media Nurani Maluku oleh Cos Ette itu adalah fitnah yang keji dan itu merupakan bentuk provokasi. Saya harap, kita harus tempuh jalur hukum supaya yang bersangkutan mempertanggungjawabkan tuduhannya itu. Saya menyarankan agar yang bersangkutan segera meminta maaf di medianya sebagai sesama wartawan. Ingat bahwa, kami disini tidak gampang terprovokasi, kami selalu kompak. Ke depan kita akan ketemu," ujar Futwembun kesal.

Diduga kuat, ada oknum ASN (orang dalam), yang berkomunikasi dengan Costan Ette dan menyampaikan hal tersebut. Dia sengaja membocorkan semuanya itu termasuk nominal jumlah biaya yang dibutuhkan oleh para wartawan dalam melakukan tugas peliputan keluar daerah. Padahal, hingga saat ini wartawan KKT sama sekali tidak tahu - menahu berapa jumlah biaya yang nantinya diberikan pemda dalam sebuah kegiatan jurnalis.

Kepada oknum ASN yang membaca tulisan ini agar sadar akan perbuatannya. Karena apa yang disampaikan kepada seseorang tidak sesuai dengan fakta, apalagi dipublikasikan hingga berdampak fitnah.

Bupati KKT Petrus Fatlolon, diharapkan berhati - hati terhadap mereka - mereka ini, lantaran apa yang menjadi rahasia internal pemda, bisa saja bocor keluar karna ulah oknum - oknum yang tidak bertanggung jawab itu. (MK)