Diskusi RIK Bone, Periset Sebut Sejarah Periode Pasca Revolusi Masih Kosong

Diskusi RIK Bone, Periset Sebut Sejarah Periode Pasca Revolusi Masih Kosong

Simpul Rakyat
Jumat, 15 Maret 2019


SimpulRakyat.co.id, Bone - Litbang Kabupaten Bone menggelar diskusi Rencana Induk Kelitbangan (RIK), kegiatan ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesenjangan dengan kondisi aktual. Kegiatan ini untuk menghimpun gagasan dari berbagai unsur, akademisi, praktisi, LSM dan lainnya yang diselenggarakan di Hotel Novena, Kabupaten Bone, Kamis (14/03).

RIK adakah forum curah gagasan mengenai rencana riset yang akan dilakukan oleh Litbang dengan topik riset sebagai arus utama dalam perencanaan.

Subarman Salim yang merupakan salah seorang periset sejarah, dalam kegiatan tersebut mengatakan, gagasan Litbang Bone. adalah kesempatan yang baik untuk membicarakan periode 'sejarah yang hilang', topik riset yang selama ini dianggap telah selesai.

"Sejarah periode pasca revolusi masih kosong. ada dua tema penting yang belum pernah secara serius diteliti. Pertama, tahun-tahun ketika pasukan DI/TII masuk hutan dan menguasai kampung. Kedua,  hari-hari penggajangan PKI," ungkap Subarman.

Lanjut dia, ironisnya di buku paket siswa IPS SD, tertulis Arung Palakka sebagai pengkhianat. Sementara pada buku pegangan siswa SMA, periode kerajaan Islam, tak sebaris pun menulis tentang sejarah Kerajaan Bone di Sulawesi.

"Di sini, sejarah memang jarang didiskusikan. Sejarah lebih banyak dianggap sebagai artefak dan benda-benda sakral yang bersemayam di museum. Sejarah lebih banyak dikisahkan melalui tradisi lisan. Tulisan-tulisan yang ada lebih tampak seperti monograf," katanya.

Dia juga menyayangkan, kekosongan periode sejarah itu dibiarkan berlarut-larut. Padahal menurut dia, melalui sejarah, generasi kini bisa menemukan jati diri, dan mengenali dari mana mereka tumbuh.  Tentu saja, forum yang difasilitasi oleh Litbang ini penting, setidaknya, bisa jadi tempat curhat melihat kesenjangan yang ada. Ungkapnya

"Semoga setelah forum RIK ini, Litbang makin terbuka untuk memberi ruang dan mendukung riset-riset sejarah, khususnya periode sejarah yang kosong itu," pungkas Subarman Salim. (*/PU)