Remaja Korban Perdagangan Manusia Dijadikan Pelayan Cafe Remang-remang

Remaja Korban Perdagangan Manusia Dijadikan Pelayan Cafe Remang-remang

Simpul Rakyat
Selasa, 12 Februari 2019

Press Conference Polres Gowa

SimpulRakyat.co.id - Dua gadis remaja berinisial DN (17) dan NA (18) yang merupakan warga Kabupaten Gowa, Sulsel diduga menjadi korban human trafficking alias perdagangan manusia.

Hal itu dipaparkan langsung oleh Kasat Reskrim Polres Gowa Akp Herly P didampingi Kanit PPA Aiptu Hasmawati dan Kasubbag Humas Akp M Tambunan saat menggelar press conference, Senin (11/02) siang.

Kejadian perdagangan manusia ini berawal saat kedua korban bermain di jejaring media sosial dan berkenalan dengan NR (17), pelaku menawarkan korban sebuah pekerjaan dengan upah Rp.500.000/minggu.

Setelah terjalin komunikasi dan sepakat tentang upah yang cukup besar, korban pun mengikuti petunjuk NR, dimana selanjutnya dijemput di salah satu salon kecantikan di Kota Makassar oleh dua terduga pelaku lainnya, yakni ABA (34) dan MS (23).

NR diketahui bertugas mencari karyawan melalui media sosial untuk dipekerjakan sebagai pelayan kafe di Kabupaten Pangkep.

Sementara itu, setibanya di kafe tersebut, korban mengaku tidak mengetahui sebelumnya jika akan dipekerjakan sebagai pelayan kafe. Korban pun tidak dapat menghubungi pihak keluarganya dikarenakan HP mereka disita oleh pemilik kafe, agar tidak dapat berkomunikasi dengan pihak keluarga.

"Korban tidak tahu akan dijadikan pelayan kafe remang-remang. Keduanya hanya dijanjikan pekerjaan dengan iming-iming gaji Rp 500 ribu per Minggu," kata kata AKP Herly Purnama.

Sehubungan hal itu, orang tua korban pun berupaya mencari keberadaan korban namun tidak ditemukan, sehingga ia melaporkan kejadian tersebut ke Polres Gowa, yang selanjutnya dilakukan penyelidikan oleh unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) dan berhasil mengamankan pelaku ABA dan MS di depan Bank Mega Sungguminasa,  sementara NR diamankan di wilayah Antang, Makassar, Sabtu (08/02) lalu.

Diketahui ketiga pelaku dalam melakukan aksinya mempunyai peran yang berbeda-beda, dimana ABA berperan sebagai pemilik kafe dan yang pemberi honor Rp.250.000 kepada pelaku NR jika berhasil merekrut karyawan, sedangkan MS bertugas sebagai kasir pada kafe itu.

“Kejadian ini merupakan hal yang pertama terjadi di Kabupaten Gowa. Untuk itu, kepada seluruh orang tua agar lebih meningkatkan pengawasan kepada anak-anaknya," tutur Kasat Reskrim

Ketiga terduga pelaku tersebut dijerat pasal 2 UU No 21 tahun 2017 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang, pasal 183 Jo pasal 74 No 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, serta pasal 83 Jo pasal 76f UU No 35 tahun 2014 tentang Perlindungan anak. (*)

Arwan