Polemik Pembangunan Kilang Blok Masela di Kabupaten Maluku Tenggara Barat

Polemik Pembangunan Kilang Blok Masela di Kabupaten Maluku Tenggara Barat

Simpul Rakyat
Selasa, 12 Februari 2019



SimpulRakyat.co.id - Rencana pembangunan kilang minyak milik INPEX Corporation di desa Lermatan, masih menjadi polemik. Ada beberapa point yang seyogyanya menjadi bahan pertimbangan Pemerintah sebelum penetapan lokasi, karena bisnis migas adalah salah satu kepentingan yang berdampak besar bagi lingkungan sosial ekonomi bagi rakyat sekitar.

Desa Lermatan adalah salah satu desa di Kabupaten Maluku Tenggara Barat yang diduga akan menjadi lokasi pembangunan kilang gas nantinya. Sebagian besar warga Desa Lermatan bermata pencaharian sebagai nelayan. Belakangan ini desa Lermatan  ramai diperbincangkan karena ada beberapa peninggalan sejarah yang tidak pernah diexpose selama ini.

Yang pertama adalah Gereja Kristen Protestan tertua yang telah berumur ratusan tahun. Gereja ini dibangun oleh pendeta Yoseph Kham pada tahun 1800an. Gereja peninggalan sejarah tersebut sampai saat ini masih menjadi tempat peribadatan umat Kristen Protestan di daerah itu. Dari sisi undang-undang migas, pembangunan kilang minyak tidak dapat dilakukan di lokasi yang terdapat tempat peribadatan atau tempat yang dianggap suci (UU Migas No.22 Tahun 2001).


Terlebih lagi Gereja yang masih dipakai untuk peribadatan tersebut adalah Gereja peninggalan bersejarah bagi umat Kristiani yang seharusnya dilestarikan karena Agama Kristen sudah ada di Kepulauan Tanimbar sejak tahun 1800an yang kala itu penyebaran agama kristen dari Negeri Belanda dimulai.

Sampai saat ini agama Kristen Katolik dan Kristen Protestan berkembang pesat di Kepulauan Tanimbar ini. Ketua Sinode GKPI Indonesia Pendeta Lien Kuhuwael, M.Th. menyatakan penolakan atas dugaan adanya relokasi gereja GKPII tersebut. Dia menegaskan kepada Jemaat  GKPII di desa Lermatan untuk mempertahankan keadaan gereja seperti saat ini. Keterangan tersebut dihimpun wartawan SimpulRakyat.co.id ketika mewawancarai lewat sambungan telepon beberapa waktu lalu.

Selain itu, ada peninggalan sejarah yang lain berupa Sumur Tua (Sumur Keramat) bernama Wetutune Wempas Dalam yang mana dikeramatkan oleh penduduk sekitar. Sumur Tersebut hingga saat ini masih mempunyai kekuatan mistis dan sudah ada sejak tahun 1800an dan masyarakat sekitar percaya bahwa apabila ada pendatang yang memiliki energi negatif dan tujuan yang tidak baik di daerah mereka maka sumur akan mengeluarkan bau yang tidak sedap dan mendidih.

Pemerintah Daerah Kabupaten Maluku Tenggara Barat awalnya telah menyatakan kesediaan lahan seluas 600 Ha untuk lokasi Kilang Gas, namun belakangan ini diluar dugaan berkembang menjadi 1500 Ha. Nah inilah titik terindikasinya desa Lermatan akan disingkirkan atau direlokasi karena merupakan sentral kilang gas dan bisnis migas nantinya.

Pertanyaannya, Siapa yang akan bertanggung jawab ketika hal itu terjadi?
Apakah masyarakat adat setempat dan Gereja Protestan Tertua harus disingkirkan demi proyek blok masela ini?

Kita menanti babak selanjutnya...

Penulis: Marcel Kalkoy