Edu Futwembun: Predator Seks di Seira Harus Diproses Hukum

Edu Futwembun: Predator Seks di Seira Harus Diproses Hukum

Simpul Rakyat
Rabu, 13 Februari 2019

Eduwardus Futwembun, SH


SimpulRakyat.co.id - Pengacara korban perbuatan cabul anak dibawah umur Eduwardus Futwembun, SH, menggelar jumpa pers di Saumlaki terkait anak yang berhadapan dengan hukum, Selasa (12/02/2018). Kasus ini adalah kasus anak yang berhadapan dengan hukum ini sangat menarik,  karena dilihat dari indikasinya bahwa calon tersangka merupakan pelaku yang dikategorikan sebagai budak seks terhadap anak. 

Kasus ini sesuai dengan kasus peradilan, anak itu harus dilindungi, anak yang dikategorikan usia dari masih didalam kandungan sampai dengan umur 18 tahun.  Berdasarkan laporan dari ibu korban sejak tanggal 15 oktober 2018 lalu sudah dilaporkan ke Polres Maluku Tenggara Barat (MTB) yang didampingi oleh salah seorang advokat. Namun kuasanya itu secara hukum adalah cacat karena seorang anak tidak bisa memberikan kuasa atau menandatangani sesuatu yang berkaitan dengan hukum karena belum berusia 18 tahun. 

"Setelah saya bicarakan dengan orangtua dan pengasuh korban terkait pemberian surat kuasa yang cacat hukum,  akhirnya orangtua mencabut kuasa dan mengalihkan ke Advokat yaitu ke saya Eduardus Futwembun, SH sebagai pengacara korban yang bekerja pada Posbakum Adin Saumlaki," ujar Eduardus Futwembun, Selasa (12/02).

Ketika dirinya (Eduardus Futwembun) mendampingi korban ke penyidik Polres Maluku Tenggara Barat ternyata dilihat dan didengar langsung diawal pemeriksaan unsurnya sudah jelas,  tindak pidananya sudah jelas,  indikasinya sudah jelas sehingga dihimbau kepada Kapolres Maluku Tenggara Barat,  segera dalam waktu singkat ini menahan tersangka untuk proses hukum selanjutnya dipengadilan negeri Saumlaki. 

Didalam ketentuan unsur KUHP sudah jelas dan dapat menunjukkan bahwa calon tersangka sudah bisa ditahan dalam penyelidikan Polres.  Insan Pers diminta untuk memantau dan memonitor demi anak dan generasi muda. Perlu juga dukungan dan pendampingan dari Dinas terkait yang selama ini terkesan kurang aktif dalam melaksanakan tugas mereka untuk mengawal,  melindungi dan mendampingi saksi korban. Mengingat mereka dibayar oleh negara begitu juga Pekerja Social (Peksos) yang mempunyai tugas yang sama. 

"Selama ini saya hubungi Peksos maupun Dinas terkait sekarang baru mereka ada dimana selama ini mereka jarang terlihat,  dan angkat kriminal saat ini sangat tinggi sehingga saya menghimbau kepada Bupati agar selalu memonitor bawahannya untuk melihat masyarakat,  karena kasus ini sangat trend di Kabupaten Maluku Tenggara Barat ini. Teman - teman pengacara Saya melaporkan kasus - kasus dipolres namun Kita tidak tahu arahnya kemana," jelas Edo Futwembun.

Futwembun berharap dirinya,  kejaksaan,  pengadilan dan kepolisian adalah mitra kerja sehingga perlu dilihat obyektifitas kasusnya saja jangan melihat dengan subyektifitas yang nantinya dapat berpihak pada Keluarga dan orang yang dikenal saja lalu bagaimana dapat dilakukan tindakan hukum,  mengakhiri pertemuan konfrensi pers bersama Awak Media di Saumlaki.  (IS)